Home / Berita Tokoh / Amalia Choirunnisa S.Pd : Potensi Seorang Kader Dalam Kesadaran Berorganisasi

Amalia Choirunnisa S.Pd : Potensi Seorang Kader Dalam Kesadaran Berorganisasi

Komline, Jakarta-Kebanyakan orang berpendapat bahwa Organisasi adalah wadah bagi orang-orang yang memiliki potensi, kreatifitas, dan haus akan pengetahuan juga pengalaman. Organisasi membawa kita pada sebuah jalan yang benar, bisa saja menjadi salah jika kita tidak bisa mengatur pola tersebut.

Berbicara potensi, semua orang pasti memiliki. Menurut Budiyanto (2006:3) ada beberapa potensi diri yang dimiliki oleh manusia, antara lain yaitu potensi berfikir, potensi emosi, potensi fisik, potensi sosial, potensi mental intelektual (intellectual quotient). Potensi mental spiritual (spiritual qoutient), dan potensi daya juang (adversity quotient). Maka dari itu, potensi tersebut harus diasah kemudian dikembangkan pada suatu wadah bernama Organisasi.
Didalam Organisasi, orang-orang didalamnya adalah kumpulan pemikir, penggerak, bahkan ada yang pemberontak. Semakin beragam, semakin hidup Organisasi tersebut. Tetapi akan redup dan hancur jika orang-orang itu memiliki sebuah kelompok lain didalamnya dan ingin menghancurkannya.
Kita tahu, bahwa berbeda adalah sebuah inovasi, sebuah kreatifitas seseorang untuk bertarung dalam sebuah gagasan. Yang nantinya gagasan tersebut akan menjadi sebuah gerakan, sehingga Organisasi menjadi nomer satu.

Terkadang, kita melupakan. Bahwa masih saja ada toxic didalam sebuah Organisasi. Padahal, kita sudah sepakat untuk melangkah bersama menuju satu tujuan. Sering sekali kita menemukan tindakan tidak baik terhadap anggota organisasi, baik secara fisik maupun mental (psikologi) didalam lingkukngan organisasi internal maupun eksternal kampus.
Contohnya seperti apa?

Sebentar..
Mari kita renungkan…

Sebagai ilustrasi cerita, pada Pemilihan Pemilu Raya Mahasiswa, kedua pasangan calon bertarung untuk mendapatkan kedudukan tertinggi sebagai Sang Maha Mulia yang Terhormat. Dicarilah tim pemenangan masing-masing kubu untuk menyusun strategi bagaimana mengalahkan lawan. Disanalah awal mula sebuah proses. Tentang management, mengatur pola, mobilisasi sampai konsolidasi. Ketika tiba masa penghitungan, masing-masing tim pemenangan merasakan harap-harap cemas. Begitupun dengan pasangan calon tersebut. Situasi mulai memanas ketika pasangan calon nomer satu memenangkan kontestasi pilitik dan mulai membuka percakapan pada tim yang kalah. Ditawarkannya, apakah tim yang kalah akan ikut bergabung sebagai pengurus Organisasi? Atau menolak dan membenci mereka yang menang? Jawabannya, mereka menolak untuk bergabung. Padahal, ada sebuah potensi yang sangat bagus jika mereka bergabung dan membesarkan nama Organisasi tersebut.

Jika kita simpulkan, menang dan kalah adalah sebuah proses pendewasaa dalam kontestasi pilitik. Haram hukumnya jika kelompok yang kalah membenci yang menang. Mengapa kita tidak mencoba untuk menyatukan? Hapuskanlah gengsi, berfikir dewasa. Pasti ada saja anggota yang memiliki potensi yang bagus namun tidak bisa tersalurkan karena terjebak sistem untuk membenci kelompok yang menang.
Jika kejadian ini pernah atau sedang dialami oleh Pembaca, marilah kita berfikir dengan jernih..
Si A memiliki potensi intelektual yang jika dikembangkan akan terbentuk sesuatu, Dia membutuhkan wadah untuk menyalurkan ide-ide kreatifnya agar tidak terjadi onani pikiran. Namun, semua itu hanya akan menjadi sebuah mimpi. Leluhurnya menganut sistem senioritas yang jika Dia tidak mengikuti aturan tersebut, bisa saja Dia dibenci dan ditendang dari kelompoknya.
Kita bisa renunkan, kejadian itu pasti sering terjadi diberbagai kelompok kecil maupun besar. Belas kasihan kini menjadi predikat yang melekat dalam diri si A. Karena sebenarnya, Dia memiliki potensi tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk bergabung dalam Organisasi tersebut pun, dia tak mampu. Kelompoknya tidak menyetujui. Sedangkan Dia memiliki Hak untuk menjadi pemberontak. Keluar dari zona negatif dan mengembangkan potensinya sehingga Organisasi tersebut menjadi Hidup dan Nomer Satu.

Seorang senior HMI; Kakanda Aliga Abdillah (Wasekbid PTKP Himpunan Mahasiswa Islam Badko Jabodetabeka-Banten periode 2018-2020) pernah mengatakan bahwa Kita harus bisa menanamkan sikap Proporsional dan Profesional. Harus mampu menempatkan diri dengan siapa kita bergabung dan berbicara. Meski dengan musuh sekalipun. Jika kita memiliki kekesalan atas apa yang dilakukan dimasa lalu, lupakan sekarang. Waktunya untuk mempersatukan gagasan, bukan malah makin melawan. Karena disanalah, kita belajar proses pendewasaan diri.
Dan juga, mengutip dari sebuah buku karya Ary Ginanjar Agustian dengan judul Rahasia Sukses Membangun ESQ Power “Zero Mind atau Penjernihan Otak yaitu sebuah proses untuk membersihkan hati dari belenggu yang menutupinya, seperti persepsi atau paradigma”.
Artinya, ini merupakan langkah pembentukan hati dan pikiran yang jernih sehingga akan siap menghadapi berbagai rintangan karena mampu berfikir positif dan akan tanggap terhadap suatu peluang serta bisa menerima pemikiran baru tanpa dipengaruhi dogma yang membelenggu.

Untuk kamu, kalian, mereka, keluarga kita dalam satu Organisasi, marilah sama-sama untuk mendorong Kader yang memiliki potensi intelektual dan lainnya, dengan membiarkannya keluar dari ruang sistem yang telah dibuat dan dianut. Kita harus sadar, dengan mengurungnya didalam sebuah ruang sistem akan membuat Dia mematahkan cita-citanya, impiannya, menjadi manusia yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agamanya.
Untuk kamu yang sedang berada diposisi tersebut, posisi dikekang dan tidak tau harus berbuat apa, tetaplah semangat! Terkadang, menjadi Liar adalah salah satu jalan keluar agar kamu terbebas dari ruang sistem yang selama ini menjadikan Hak mu tidak tersalurkan. Mulailah menata hidupmu kembali. Rencanakan tujuanmu kedepan dengan matang.

Terimakasih telah membaca. Semoga pembaca bisa memahami apa yang disampaikan penulis. Sehingga akhirnya, waktumu tidak menjadi sia-sia.

Salam kenal dariku,
Amalia.

(hubungi penulis via instagram @amengce)

Oleh: Amalia Choirunnisa S.PdSekretaris Umum Kohati Cabang SerangPeriode 2020 – 2021

Facebook Comments

Check Also

Tantowi Yahya Dubes RI Untuk Negara Selandia Baru Berikan Himbauan Kepada WNI di Selandia Baru

Komline, Jakarta– Duta Besar (Dubes) RI Tantowi Yahya, memberikan himbauan kepada Warga Negara Indonesia yang …

%d bloggers like this: