Home / Curhat Om / DEMOKRASI “Kentut” Beraroma NEOLIBERAL

DEMOKRASI “Kentut” Beraroma NEOLIBERAL

Link Banner

Komline, Palembang- Saudaraku, mungkin kita tak pernah membayangkan bahwa plutocrat-konglomerat mempunyai daya yang cepat memproduksi mutan dan mendikte sebuah negara. Pada awalnya mereka mengemis melata ke negara. Selanjutnya mereka berkembang biak secara dominan dan menginjak-nginjak suatu negara dan aparaturnya.

Saat bersamaan, warga negara terlalu cerdas menemukan para penipu, para maling uang negara( Koruptor ), maupun mafia untuk menjadi pemimpin dalam jabatan strategis. Baik di parlemen, pemimpin negara sampai pada level pemimpin pada tingkat bawah. Sehingga, makin cepat binasa atau musnahnya suatu negara.

Sayangnya, warga negara tak mampu menemukan dan memilih yang amanah, itu nyata dan sungguh menyedihkan. Hal ini terjadi karena kwalitas warga negara merosot dalam melahirkan dan memilih pemimpin. Berdampak pada kwalitas, keHIDUPan bernegara, kwalitas pengelolaan negara. Khususnya memenuhi hajat warga negaranya. Warganegara bukanya bodoh dan miskin. Tetapi dibodohi dan dimiskinkan secara sistematis. Sehingga melahirkan warga negara yang terjajah. Mereka ” MERDEKA secara fisik, namun terjajah dari berbagai lini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Percaya atau tidak, itu dapat dirasakan oleh setiap warga negaranya.

Para penipu, maling uang negara dan mafia itu makin menjauhkan warganya dari problem utama dan bagaimana mengatasinya. Karena problemnya kemiskinan dan ketimpangan yang tajam, obatnya pemimpin bervisi pendek dan defisit ide postkolonial. Akhirnya seperti sakit gigi diobati parfum. Ini peristiwa terakbar dalam menikmati demokrasi ” KENTUT “. Dalam demokrasi ” KENTUT”, peristiwa ini namanya masa lalu membunuh masa depan. Masa kini mengaborsi kecemerlangan.

Mereka adalah anak-anak neoliberal yang dididik dan dibesarkan dengan satu solusi: iman pada pasar. Dengan sebuah model kolonialisme tingkat tinggi. Bersenjatakan strategi keCERDASAN dan PIKIRAN dalam melakukan penjajahan, ekonomi, politik, hukum, budaya, ideologi,dll. Untuk menikam matinya dibutuhkan semangat nasionalisme, kebangsaan, pikiran dan gagasan berFORMULASI AKAL SEHAT melalui sikap mental ” peMENANG ” bukan ” JONGOS ( kacung ).

Perubahan hanya bisa dilakukan dengan PERLAWANAN. Dan seorang pemimpin dapat dilihat dari PERLAWANANnya. Terhadap kemiskinan, kebodohan, ketimpangan, dan keadilan. Kawan, sadarlah sebelum kami berucap: anda sama saja dengan pesolek yang bertahta sepuluh tahun sebelummu.

Penulis : Hasbi

Ketua Dewan Forum Honorer Indonesia Pusat

(SN)

Link Banner
Facebook Comments

Check Also

“Apa Pentingnya Generasi Millenial Dalam Pemilu Serentak 2019”

Komline, OKU Selatan- Pemilu serentak pada tanggal 17 April 2019 yang bertujuan untuk memilih anggota …