Home / Berita Tokoh / DI BALIK GERAKAN MASSA 24 SEPTEMBER 2019

DI BALIK GERAKAN MASSA 24 SEPTEMBER 2019

Link Banner

Komline,Palembang-Gerakan massa yang paling terkenal dan tercatat jelas keberdaannya pada sejarah di Indonesia ialah gerakan massa pada saat tahun 45,65, dan juga 98, tentunya tiap-tiap angkatan pada saat tahun tersebut mampu menghasilkan arah perkembangan dan kemajuan sebuah negara dari gejolak-gejolak massa yang mereka hasilkan.

Untuk bisa kita melihat betapa pentingnya sebuah gerakan massa bisa dengan cara merefleksi suasana gerakan massa di setiap angkatan yang telah penulis sebutkan di atas. Mula-mula kita melihat gerakan massa pada tahun 1945 kita akan melihat bahwa maraknya sebuah perkumpulan pemuda yang membuat semacam kelompok study, hal ini disebabkan pada saat pendudukan jepang di Indonesia terkenal dengan sikap jepang yang begitu represif terhadap hal-hal yang berbau kegiatan politik.

Tentu saja akan terjadi sikap yang demikian karna ketika suatu kelompok di tengah masyarakat mampu serta cakap bicara soal politik akan melahirkan begitu banyak fikiran-fikiran baru dan melahirkan banyak pemuda yang cerdas, dengan kecemasan itu banyak pembubaran berbagai organisasi pelajar maupun mahasiswa termasuk partai politik. Saat keadaan tak memungkinkan untuk membicarakan hal-hal penting diluar maka mahasiswa dan pemuda akhirnya mengarahkan kegiatan-kegiatan diskusi di beberapa asrama. Tiga asrama yang terkenal itu ialah asrama menteng raya, asrama cikini, dan asrama kebon sirih. Terlihat angkatan 45 memiliki gaya gerakan bawah tanah untuk menentukan sikap dan peranannya. Peran dan sikap yang paling penting dari angkatan 45 ini ialah pada saat peristiwa penculikan tokoh nasional Soekarno dan Hatta, dimana penculikan tersebut memiliki muatan sikap politik dengan cara mendesak Soekarno dan Hatta agar secepatnya memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, peristiwa tersebut dalam ingatan bangsa Indonesia kita kenal dengan peristiwa Rengasdengklok. Setelah peristiwa rengasdengklok kelang satu hari yakni 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memprokalmirkan kemerdekaannya dengan Soekarno dan Hatta yang di daulat sebagai Presiden Dan Wakil Presiden Indonesia.

Setelah hari-hari kemerdekaan bangsa indonesia telah berhasil melahirkan suksesi kepemimpinan pertama di sebuah negara. Maka terbukalah pula gerbang alam demokrasi di Indonesia. Dimana perhimpuna-perhimpunan kedaerahan, mahasiswa, dan pemuda pun mulai bergeliat untuk berkontribuksi aktif melalui diskusi serta kerja-kerja kongkrit guna merumuskan arah perjuangan sebuah bangsa. Aktifnya beberapa elemen organisasi juga membuat sebuah kebangkitan partai yang menjadi prahara ditubuh negara, yakni partai komunis indonesia (PKI), sebab partai ini juga yang akhirnya menjadi tema besar gerakan massa ditahun 65. Tragedi demi tragedi yang dibuat oleh kekuatan partai tersebut mengakibatkan banyak konflik internal didalam tubuh pemerintahan baik sipil maupun militer. Tragedi yang paling dekat dengan sebab pengaktifan gerakan massa itu ialah tragedi G30s PKI, dimana dewan-dewan jendral atau militer senior yang diculik lalu dibunuh dan mayat nya dimasukan kedalam sebuah lubang yang kita kenal dengan “lubang buaya”. Dengan kondisi mencekam tersebut tentunya menggangu stabilitas dan keaman negara bukan hanya sampai disitu bahkan keadaan ekonomi negara pun terus memburuk. Dengan kesadaran akan sebuah keadaan yang menganggu, maka kekuatan panglima besar revolusi yakni Ir. Soekarno pun tidak berarti apa-apa. Hal ini terlihat setelah satu hari peristiwa G30s PKI, seluruh elemen organisasi yang turut aktif merumuskan perbaikan bangsa pun turun kejalan untuk berdemonstrasi dengan sikap serta tuntutan yang kita kenal Tritura (tiga tuntutan rakyat), tritura juga dikenal oleh aliansi mahasiswa yang menybutkan diri mereka sebagai KAMI (kesatuan aksi mahasiswa indonesia).

Bunyi dari tuntutan tersebut ialah pembubaran pki dan seluruh ormas-ormasnya, perombakan kabinet dwikora, turunkan harga pangan. Dengan gerakan massa dan juga didorong oleh narasi tritura maka keluarlah TAP MPRS NO 25 tahun 1996, yang menjadi titik awal kematian PKI di Indonesia. Bukan hanya sampai disitu dinamika yang tercipta juga menyebabkan PBR Ir. Soekano untuk mundur dari jabatan dan selanjutnya kepemimpinan dilimpahkan pada Jend. Soeharto untuk mengurus keamanan dan stabilitas negara.
Kejatuhan orde lama dan membuat babak baru negara Indonesia yang dikenal dengan orde baru, walaupun sarat kontroversi akhirnya Jend. Soeharto pun menjadi Presiden telama menjabat selama 32th. Dikenal dengan bapak pembangunan Indonesia sekaligus bapak otoritarian. Situasi negara pada saat itu tidak sama sekali mencerminkan negara demokrasi atau bahkan pada saat masa orde baru, rakyat dipaksa kembali ke alam penjajahan dimana begitu banyak aturan ketat untuk bisa bersuara. Bentuk aturan tersebut yang mudah di ingat ialah NKK/BKK, normalisasi kehidupan kampus dan juga badan koordinasi kampus ialah bentuk upaya pemerintah untuk menjinakkan berbagai macam elemen mahasiswa, dari segi suara hingga tindakan. Dengan kebijakan dan juga aturan serta lama nya berkuasa rakyat indonesia pun menyimpulkan bahwa Jend. Soeharto layak untuk menjadi musuh bersama.

Kerusuhan demi kerusuhan tidak terlekan untuk menuju puncak gerakan yakni 13-15 Mei 1998. Gerakan massa pada saat itu juga membawa sebuah sikap yang walaupun lebih lentur dari kata revolusi, “reformasi” menemukan jalannya. Reformasi diperdengarkan diseluruh penjuru negeri yang menjadi pertanda bahwa Jend. Soeharto sebentar lagi akan di adili, tuntutan reformasi itu ialah : adili soeharto dan kroni-kroninya, laksanakan amandemen UUD 1945, hapuskan dwi fungsi ABRI, pelaksanaan otonomi daerah, tegakkan supremasi hukum, ciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN. Akhirnya kepemimpinan bapak pembangunan Jend. Soeharto pun berakhir dengan begitu orde baru pun digantikan dengan era Reformasi.
Reformasi yang dinilai membuka kembali alam demokrasi di Indonesia atau bahkan aspek keterbukaan ini menjadi jaminan untuk membangunkan serta menjaga kekuatan dan kecerdasan rakyat. Selaras berarti dengan sarat makna dan pesan setiap kehadiran gerakan massa di sebuah negara, bahwa kekuatan rakyat adalah kunci inti dari sebuah gerakan massa tersebut. Pada alam demokrasi juga rakyat ialah inti dari seluruh kebijakan dan peraturan, dimana rakyat yang menjadi tuhan didalam nya. Untuk mengaktifkan gerakan massa ia harus menemui musuh yang jelas belum lagi ia perlu menghitung sebuah momentum yang tepat. Artinya setiap gerakan massa yang dibangun harus melalui ketajaman kecerdasan dan strategi ia perlu melihat begutu banyak aspek, karna gerakan massa juga semacam seni berperang “perang yang menghabiskan banyak darah dan logistik walaupun dalam posisi menang jatuhnya tetap saja kalah”. Ada pula pesan yang paling terkenal untuk kita bisa menangkap pentingnya sebuah gerakan massa yakni dari Tan Malaka dalam pesan nya ia menyampaikan “ mari kita satukan 100 juta rakyat yang tertindas dan mendiami pusat strategy dan lalu lintas seluruh benua Asia dan Samuderanya.” Dalam pesan tersebut kita bisa menangkap bahwa perjuangan bukan menunjukan kita pada jalan kesia-siaan dimana seluruh pejuang perlu mendapatkan akses informasi dan juga buah kecerdasan dari perjuangan yang mereka lakukan.

ANGKATAN BARU
Seluruh aktifitas dan juga fasilitas yang bisa dinikmati seluruh elemen masyarakat yang di Indonesia hari ini ialah buah dari yang kita sebut reformasi, beberapa orang percaya terwujudnya akses keterbukaan terhadap otoritas negara dan jangkauan untuk melihat serta mengevaluasi kekuasaa negara adalah berkat semangat dari gerakan kaum reformis pada tahun 1998. Lalu lahir dan tumbuh besar lah anak-anak yang menikmati buah reformasi tersebut, anak–anak tersebut berada pada angkatan tahun 2000an. Sebuah era baru dimana seluruh akses dan jejaring mampu di akses dengan mudah, kemajuan tekhnologi dan seluruh fasilitas modernisasi melekat pada diri angkatan 2000an tersebut. Jika ingin melihat perbedaan yang sangat mencolok antara angkatan 2000 dan angkatan sebelum-sebelumnya ialah terlihat dari mental bertarung nya baik secara fisik, mental, gagasan, dan narasi-narasi yang mereka keluarkan. Angkatan 2000 seperti tidak siap untuk menerima benturan-benturan yang dihasilkan dari dinamika sebuah negara, mereka seperti dilenakan dengan fasilitas yang serba ada di era modernisasi saat ini. Kelemahan tersebut belum terjawab karena memang angkatan tahun 2000 sejauh ini belum menemukan momentumnya untuk melakukan sebuah perubahan menuju perkembangan dan kemajuan sebuah negara.

Padahal jika ingin sedikit memuji dan berharap, angkatan yang paling aman dari hegemoni kepentingan-kepentingan yang merusak tatanan negara, ialah angkatan 2000. Dimana angkatan ini tidak memiliki warisan tragedi yang di bawa oleh angkatan-angkatan sebelumnya. Maka saya menyebut angkatan setelah angkatan 98, ialah “angkatan baru”, angkatan yang akan menjaga semangat reformasi dan membentuk bangunan kemerdekan sebenar-benarnya untuk Indonesia. Untuk mencipatakan sebuah karya besar angkatan baru ini hanya perlu menjangkau lebih dalam nilai-nilai luhur serta cita-cita pendiri bangsa dan juga angkatan-angkatan sebelumnya, hal ini berguna agar walaupun baru tetap saja menjaga kemurnian tradisi, adat, dan cita-cita. Semacam sistem nilai ke-Indonesia yang terus dilestarikan. Hal tersebut perlu di garis bawahi karena terlal terbuka nya akses dengan kemajuan tekhnologi memungkinkan masyarakat untuk dengan cepat mendapatkan sesuatu namun tidak diiring dengan dasar dan sebuah proses. Analogi dasar dan proses tersebut bisa kita belajar lewat anatomy pencernaan manusia, untuk menghindarkan sakit perut dan kerja lambung yang berlebih dalam mengelola makanan, manusia perlu mengunyah makanan itu terlebih dahulu dan jangan sampai makan-makanan yang belebih, dengan itu proses pencernaan akan bekerja dengan baik dalam hal mengelola makanan yang masuk kedalam tubuh. Namun jika hal itu tidak dilakukan dengan baik maka yang terjadi adalah kerusakan pada bagian-bagian penting pencernaan. Walaupun kemajuan tekhnologi membuka akses seluas-luasnya, kita juga perlu untuk membaca atau bahkan terjun langsung guna menyentuh dasar keilmuan dengan cara membaca buku atau masuk langsung pada study kasus yang membuat kita heran dan tertarik untuk menelusurinya. Proses literasi yang baik akan banyak sekali membantu angkatan-angkatan baru ini menerjemahkan pandangan-pandangan hidup sebuah negara kedepannya atau bahkan mampu membantu juga sampai dengan hal dan sekup-sekup kecil sebuah sendi kehidupan. Karna yang bangsa ini inginkan dari angkatan baru ialah “mampu menjadi jembatan untuk menghubungkan nilai-nilai luhur kebangsaan menuju perkembangan dan kemajuan sebuah bangsa.”

24 SEPTEMBER 2019

Masyarakat Indonesia di kejutkan dengan berbagai macam berita di media massa yang banyak mengabarkan kejadian demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah Indonesia. Demonstrasi besar-besaran tersebut sukses menyita perhatian publik bahkan sampai pada masyarakat desa. Gerakan massa 24 september 2019 bahkan bukan saja di isi oleh kaum intelektual seperti mahasiswa ada juga dari kalangan yang menyebut diri atau kelompoknya sebagai mantan aktivis 1998 hingga terakhir ada kabar anak-anak pelajar STM yang juga menyuarakan aspirasinya dengan cara turun kejalan dan berdemonstrasi.

Kejutan dari gerakan massa tersebut bukan sampai disitu bahkan beberapa orang sempat menyimpulkan gerakan tersebut adalah kebangkitan gerakan massa setelah 20th lebih fakum pasca gerakan massa 1998. Memang benar-benar mengejutkan tentunya hampir tidak pernah dalam sejarah pergerakan pasca reformasi kaum intelektual dan pemuda indonesia mampu menggerakan massa yang begitu banyaknya bahkan dengan cakupan nasional. 24 September menjadi sejarah gerakan massa dengan gelombang massa yang besar setelah berakhirnya orde baru. Dengan kebesaran dan maraknya pemberitaan tentang gerakan massa 24 September 2019 tersebut akhirnya meninggalkan sebuah bekas yang juga akan menjadi renungan bersama, tidak hanyak luka yang diakibatkan oleh bentrok melawan alat kemanan negara, tetapi juga ada sebuah keanehan yang setelah 2 hari pasca gerakan massa tersebut berakhir barulah beberapa orang pun tersadarkan oleh keanehan tersebut. Keanehan yang dimaksud ialah hasil dari evaluasi beberapa gelentir elemen masyarakat atau bahkan dari kalangan intelektual seperti mahasiswa dan aktivis itu sendiri. Terdapat beberapa pertanyaan yang juga akan satu persatu kita bedah yang ujungnya keanehan tersebut merujuk pada satu tema yakni rekayasa sosial.
Pertama, Secara budaya dan tradisi intelektual ketika ingin membahas sesuatu tentu kita akan teringat dengan istilah kajian digunakan sebagai alat membedah pokok perkara dan study kasus yang perlu di selesaikan, hal tersebut menjadi sangat penting apalagi keinginan nya agar mampu menciptakan gerakan massa. Dengan harapan massa yang akan ikut bergerak dan berjuang paham betul tentang apa yang sedang menjadi bahasan dan tuntutan. Namun kenyataannya di lapangan tidak sampai seminggu bahasan soal RUU KPK dan RUU KUHP menjadi tema besar gerakan massa. Tidak sampai seminggu juga mampu menggerakan massa aksi yang jumlah nya tak akan pernah terhitung, inilah yang menjadi pokok persoalan dilapangan akhirnya massa yang begitu banyak tidak mampu terkoordinir belum lagi instruksi dari mobil komando yang membingungkan bayangkan begitu banyak komando di satu lapangan. Dan akhirnya benturan fisik serta gas air mata yang mengakibatkan korban luka dan jiwa dari massa aksi pun tidak terelakan. Jika melihat keadaan dilapangan artinya tidak ada upaya kajian dan konsolidasi yang maksimal ketika ingin melakukan sebuah gerakan massa.
Kedua, salah mengartikan beban moral ataupun kekuatan moral (moral force). Perasaan senasib dan sepenanggungan memang lah penting karena dua hal itulah bahasa persatuan dan kesatuan lahir di tengah-tengah literatur sebuah bangsa. Kelahiran sebuah perasaan moral yang dalam dan juga sarat makna tersebut juga perlu memiliki landasan yang kuat bahwa perjuangan yang dilakukan bersama adalah perjuangan menuju sumber air kesucian dan kebenaran. Kecil kemungkinan perasaan itu lahir tanpa sebuah tradisi fikiran terlebih dahulu proses membaca dan menganalisis, namun fakta dilapangan tidak menampilkan hal yang demikian akhirnya penulis menilai bahwa gerakan massa yang terjadi adalah gerakan massa yang didasari oleh gejolak dan rasa rindu akan sebuah gerakan massa yang begitu besar seperti tahun 98 dan 65. Sebelum wilayah lain bergerak, gerakan ini di picu oleh gerakan massa kaum intelektual jawa dengan aksi-aksi longmarch dan pernyataan sikap di beberapa instansi negara, bahkan yang membuat menarik setiap tulisan-tulisan di dalam poster yang di bawa oleh massa aksi tersebut mampu menyita perhatian publik. Jadi ada perasaan malu kalau di daerah lain tidak ikut bergerak karena di pulau jawa sudah ramai-ramai melakukan sebuah gerakan aksi secara masif. Setelah itu perasaan rindu yang juga tidak terelekan sekian puluh tahun memendam keinginan melakukan gerakan massa kembali secara besar-besaran setelah pasca aksi 98 belum pernah ada lagi yang terpublish secara masif oleh masyarakat indonesia.

Ketiga, sepanjang sejarah pergerkan nasional belum ada aksi yang mendapatkan perizinan dengan mudah, maksudnya adalah pada saat itu semacam ada fenomena dibiarkan nya terjadi aksi atau bahkan memang dibutuhkan aksi besar. Terlihat dari beberapa kampus yang dosen-dosennya dengan longgar memperbolehkan anak muridnya melakukan aksi turun kejalan. Padahal sebelum-sebelumnya setiap kabar ada aksi selalu dilakukan dengan cara diam-diam dan baru muncul kepermukaan kabar aksi tersebut ketika hari H- pelaksanaan. Sifat longgar yang dicerminkan kampus pada hari itu juga menjadi pertanyaan padahal kampus itu juga merupakan perangkat negara yang menjadi objek vital untuk di evaluasi. Maksudnya ketika mengevaluasi tata kelola pemerintahan dan negara kampus juga bagian dari evaluasi tersebut. Jika kita lihat secara sepintas memang seolah-olah kampus memberikan kesan baik dan pro terhadap mahasiswa yang memiliki daya nalar kritis untuk melakukan sebuah pergerakan. Namun masih sulit membayangkan ada orang atau lembaga di republik ini rela untuk dirinya sebagai pribadi maupun kelembagaan mau untuk di evaluasi.
Keempat, cara yang klasik untuk menipu adalah dengan memberikan ikan kecil dan menyembunyikan keberadaan ikan besar. Kejadian seperti itu selalu terjadi untuk menutupi kegagalan wakil rakyat baik dari kalangan ekskutif maupun legislatif. RUU KPK dan RUU KUHP yang menjadi tema study utama di susul dengan RUU yang lain merupakan sebuah rancangan undang-undang. Artinya tidak perlulah sebuah gelombang massa secara besar-besaran untuk mengkritisi RUU yang ada tersebut. Bahkan dari beberapa kalangan intelektual sendiri menyepakati adanya RUU KPK dan KUHP hanya saja perlu untuk penambahan saran dan masukan untuk di evaluasi. Dengan tema besar tersebut akhirnya gedung DPR RI di kepung massa dengan harapan lembaga perwakilan ini beserta orang-orang di dalamnya mampu menjadi musuh bersama seperti orde baru dahulu. Padahal keliru jika hanya menjadikan DPR sebagai lembaga yang perlu dikritisi. Seharus nya baik lembaga legislatif maupun ekskutif harus sama-sama di evaluasi, dua lembaga tersebut sama-sama lembaga keterwakilan dan satu kesatuan hanya saja cara bekerja mereka yang berbeda. Bukan hanya anggota dewan yang perlu di mintai pertanggung jawaban atas praktek KKN yang belum selesai, tetapi juga pertanggung jawaban itu pun perlu di tanyakan pada presiden RI ke-7 yakni Ir. Jokowidodo. Presiden tentunya harus punya fikiran dan bicara ditengah-tengah situasi yang kacau dan membuat sebuah harapan baik tentang perkembangan dan kemajuan negara bersama rakyat Indonesia itu sendiri. Tetapi tidak yang terjadi gerakan massa terarah dan terfokus hanya pada lembaga legislatif yakni DPR RI, menjadikan DPR RI sebagai common enemy adalah kesalahan fatal. Karena didalam tubuh DPR RI pada saat itu masih ada bentuk nyata dari oposisi yang siap mengkritisi pekerjaan lembaga ekskutif. Namun karena DPR RI sudah terlanjur menjadi musuh baik lembaga dan orang-orang yang ada didalamnya, kepercayaan masyarakat pun ikut menurun terhadap lembaga dan orang-orang didalamnya. Setelah serangan gerakan massa yang secara masif tersebut terlaksana dan berhasil menjatuhkan kepercayaan terhadap lembaga dan orang-orang di dalamnya. Tidak berlangsung lama dari peristiwa 24 september itu pada tanggal 1 oktober DPR RI yang baru hasil pemilu tahun 2019 pun dilantik. Barulah kita sadar bahwa DPR RI yang yang baru dilantik ini memiliki kesan yang baik dengan lembaga ekskutif. Bisa jadi dalam periode yang baru legislatif dan ekskutif hanya tinggal main mata dan bekerja dengan baik.
Kelima, kemampuan mengambil hati rakyat adalah kemampuan yang wajib dimiliki oleh para politisi. Sebenarnya fenomena gerakan massa 24 september 2019 secara tidak langsung akan mempermudah pelantikan DPR RI dan juga Presiden dan Wakil Presiden hasil pemilu 2019. Lembaga negara perlu yang namanya kepercayaan (trust) untuk menjaga kekuasaannya. Sedangkan pemilu yang diselenggarakan pada april 2019, masih menyisakan ketidak percayaan masyarakat Indonesia terhadap tata kelola proses demokrasi melalui KPU (komisi pemilihan umum) artinya ketidak percayaan akan hasil pemilu juga memiliki potensi ketidak percayaan terhadap pejabat publik yang dihasilkan seperti anggota dewan dan presiden serta wakil presiden terpilih itu sendiri. Walaupun seluruh perhalatan proses pemilu telah berakhir dan hanya tingga menunggu proses pelantikan para wakil rakyat dari legislatif maupun ekskutif tetap saja kepercayaan terhadap mereka belum penuh diberikan oleh rakyat. Dengan keadaan seperti itu harus ada upaya semacam rencana yang bertujuan untuk mengembalikan kepercayaan publik itu kembali kepada lembaga negara dan orang-orang yang akan berada didalamnya. Dengan keadaan yang demikian akan menjawab pertanyaan mengapa gerakan massa diarahkan dan terarah hanya pada lembaga dan orang-orang penting di lembaga DPR RI yang masa jabatannya akan segera berakhir. RUU hanya dijadikan bahan untuk selanjutnya digoreng di DPR lalu disantap beramai-ramai. Ketika situasi sudah cukup panas dan kerusuhan mulai terjadi dengan bahasan RUU yang terus di angkat, barulah Presiden Jokowi hadir dengan momentum yang tepat. Presiden jokowi menyatakan sikapnya sebagai pimpinan tertinggi negara untuk menunda RUU KPK dan KUHP beserta RUU yang lainnya. Ketika wajah DPR RI habis dipermalukan, Presiden Jokowi menjadi pahlawan karena telah mendengar aspirasi gerakan massa dan berhasil menunda proses RUU yang sedang dikritisi tersebut. Sesuai apa yang diharapkan popularitas dan tingkat kepercayaan masarakat Indonesia secara tidak langsung akan meningkat terhadap lembaga eksuktif dan lembaga legislatif beserta orang-orang yang akan berada didalamnya setelah melalui tahapan pelantikan. Proses pemilu yang masih meninggalkan banyak PR akhirnya dilupakan dan mulai membahas kegiatan kenegaraan setelah proses pelantikan terlaksana.
Keenam, sekarang yang menjadi bahan perbincangan baru ialah mampu atau tidak gerakan massa ini memukan momentumnya dan memiliki nafas yang panjang atau hanya terjadi satu kali pada saat 24 september 2019 itu saja. Sangat menyayangkan jika gerakan massa tersebut hilang, padahal angkatan tahun 2000 perlu melakukan perubahan besar bukan hanya sampai pada RUU (rancangan undang-undang ) yang berhasil ditunda saja. Tetap ada kemungkinan gerakan massa ini akan susah untuk terjadi kembali karena secara internal gerakan massa ini bukan lah gerakan massa yang dibangun secara solid dan terkonsolidasi akhirnya ketika terjadi benturan fisik dengan alat keamanan negara ( Polisi ) korban luka bahkan korban jiwa yang ada, tidak menghasilkan rasa senasib – sepenanggungan melainkan perasaan trauma di tengah-tengah gerakan massa. Traumatik itu terjadi karena banyak diantara elemen masyarakat dan mahasiswa yang ikut kedalam barisan tersebut belum siap jika harus berbenturan dengan polisi. Semakin kuat kepolisian menurunkan alat-alat bersenjatanya untuk menyingkirkan massa, dan massa pun semakin lemah terhitung aksi besar tersebut hanya bertahan tidak sampai satu minggu. Belum lagi korban luka dan jiwa yang hanya diurus secara seremonial, tentunya akan memiliki perasaan kecewa ketika melihat para pimpinan-pimpinan massa aksi masuk tv tanpa satu luka sedikit pun. Maksudnya tidak tergambar dari pimpinan-pimpinan massa aksi yang mencerminkan bahwa mereka bersama rakyat dan korban luka serta jiwa pada saat peristiwa 24 september 2019. Entah hal kejadian seperti ini tertangkap atau tidak oleh pimpinan-pimpinan aksi yang latar belakangnya dari perwakilan BEM (Badan Ekskutif Mahasiswa), karna tanggung jawab mereka besar termasuk mengurus sampai selesai kasus korban luka dan jiwa pasca peristiwa 24 September 2019. Kalau massa yang jumlah nya tidak mampu terhitung itu solid dan terkonsolidasi ditambah rasa penghormatan dan senasib-sepenanggungan besar kemungkinan gerakan massa yang besar mampu untuk tercipta kembali.
Ada sebuah skema dan alur cerita yang tersusun panjang jika ingin mengevaluasi lebih dalam mengapa gerakan massa 24 September 2019 dapat terjadi. Namun sayang nya evaluasi tersebut belum pernah terlaksana khususnya evaluasi dikalangan pemuda dan mahasiswa. Selalu menjadi bagian penting dan jangan sampai bosan untuk terus diucapkan “ bahwa gerakan massa perlu mengandalkan ketajaman intelegensia”, jangan sampai gerakan massa hadir hanya karena termakan gejolak dari gerakan massa yang sudah lebih dulu terjadi didaerah lain. Tentunya kita semua pemuda angkatan 2000an sama-sama rindu untuk terciptanya perubahan besar di negara Indonesia, apa-apa saja yang telah terjadi semoga mampu untuk bahan pelajaran dan untuk mengenang peristiwa 24 september 2019 penulis sengaja menganalisis gerakan massa yang ada dengan harapan mampu membuat nafas dari pergerakan nasional angkatan 2000an ini berumur panjang. HIDUP RAKYAT !!!

OLEH: ADITIA ARIEF LAKSANA

Link Banner
Facebook Comments

Check Also

Tokoh Pemuda Sumsel Harda Belly Berharap KPU Jangan Loloskan Pemakai Narkoba ,Pejudi ,Pezina Maju mencalonkan Diri Pilkada 2020

Komline ,Jakarta– Mewujudkan Kepala Daerah yang Berkualitas, Pilkada Serentak Harus Didukung Penyelenggara dan Masyarakat Berkualitas …

%d bloggers like this: