Home / Berita Tokoh / H. INDRA, M.Si., MNLP : SISTEM SEKOLAH ZONASI TANTANGAN BAGI PENDIDIK

H. INDRA, M.Si., MNLP : SISTEM SEKOLAH ZONASI TANTANGAN BAGI PENDIDIK

Link Banner

Palembang-Sebagai pemerhati dan konsultan pemberdayaan Sumber Daya Siswa (SDS) di beberapa sekolah menengah atas, khususnya di SUMSEL, saya tidak jarang mendengar keluh kesah para pemimpin sekolah (baca: kepala sekolah), dengan adanya sistem baru dalam penerimaan peserta didik, yaitu berdasarkan jarak tempat tinggal calon siswa.

Meski tetap mengalokasikan beberapa persen untuk siswa unggul, yang barangkali akan ditempatkan di kelas unggulan juga, namun keberadaan siswa yang “biasa-biasa saja” atau bisa jadi “siswa luar biasa” bisa bersekolah di SMA/ SMK yang selama ini diunggulkan.

Jika kita mau jujur, sekolah unggulan atau tidak semua itu karena berbagai faktor yang mempengaruhi artinya ada faktor-faktor tertentu yang menyebabkan unggul. Pertama, karena dukungan pemerintah terkait, misal pemerintah memberikan bantuan dana operasional sekokah sehingga sekolah tersebut bisa menambah jam pelajaran. Ada sistem asrama lengkap dengan konsumsi yang disubsidi pemerintah.

Kedua, faktor “brand image” dengan sendirinya terbentuk yaitu lulusan yang dihasilkan banyak yang diterima di lembaga/ instansi kedinasan, atau perguruan tinggi negeri.

Ketiga, faktor input, siswa yang diterima otomatis sudah tersaring, yang memiliki prestasi dan IQ (kemampuan intelektual tertentu).

Dengan adanya sistem zonasi ini sejatinya setiap sekolah bisa berbenah, untuk memperbaiki kualitas dan bersaing meningkatkan prestasi anak didik masing-masing. Karena bisa jadi calon siswa yang seharusnya masuk ke sekolah “unggulan/ diunggulkan” tadi karena sistem baru ini dia masuk ke sekolah yang sebelumnya dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Ada “diamond-diamond” baru yang masuk ke sekolah tersebut dan siap mengharumkan nama sekolah.

Sebaliknya di sekolah yang tadinya dikenal unggul, relatif berbiaya tinggi, menghasilkan lulusan-lulusan cemerlang seperti yang disebutlan di atas nantinya akan sedikit “bergairah” menangani siswa-siswi spesial dan luar biasa. Yang pasti kepala sekolah atau guru yang berpredikat pendidiklah yang menganggap ini sebagai tantangan sekaligus ladang ibadah.

Akhirnya tulisan singkat ini saya tutup dengan petuah guru saya, William Butler Yeats,

“Pendidikan bukanlah seperti mengisi ember yang kosong kepada murid-murid kita dengan mengisinya apa saja, pendidikan adalah bagaikan menyalakan api yang telah atau hampir padam.

Kita harus sadar sekaligus menghargainya bahwa anak-anak kita di sekolah sudah membawa “bekal” mereka masing-masing di dalam pikiran, pandangan dan latar belakang pengetahuan dari pengalaman hidup sebelumnya”

Kesimpulan

Tidak ada siswa yang gagal sebelum waktunya, anak-anak didik itu perlu diberi ruang dan kesempatan yang sama, karena
pendidikan yang baik pada hakekatnya yang bisa memanfaatkan “bekal” anak didik kita dengan sebaik-baiknyanya sehingga berkembang sesuai dengan bakat dan potensinya masing-masing seperti api yang menyala kembali.

H. INDRA, M.Si., MNLP ( Direktur Biro Psikologi Karya Tunas Bangsa)

Link Banner
Facebook Comments

Check Also

Tokoh Pemuda Sumsel Harda Belly Berharap KPU Jangan Loloskan Pemakai Narkoba ,Pejudi ,Pezina Maju mencalonkan Diri Pilkada 2020

Komline ,Jakarta– Mewujudkan Kepala Daerah yang Berkualitas, Pilkada Serentak Harus Didukung Penyelenggara dan Masyarakat Berkualitas …

%d bloggers like this: