Home / Kisah & Misteri / Ibu Beranak Empat Ini Tinggal Di Gubuk Dan Tanah Masih Numpang, Layak Kita Perhatikan

Ibu Beranak Empat Ini Tinggal Di Gubuk Dan Tanah Masih Numpang, Layak Kita Perhatikan

Link Banner Link Banner

Komline, Baturaja – Bersyukurlah kita semua yang diberikan kehidupan layak oleh Tuhan YME. Karena nyatanya tidak semua orang bisa hidup lebih baik secara lahir dan batin. Dan tidak semua orang beruntung dengan kerja kerasnya demi memenuhi kebutuhan hidup yang sangat keras ini.

Seperti halnya yang dialami oleh Ibu Sumartini (46), warga Kemelak, Bindung Langit, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Provinsi Sumsel adalah seorang janda dengan 4 orang putri, sekaligus seorang anak dari bapak tua yang bernama Bahri (85) ini kehidupannya memang serba kekurangan. Mungkin karena faktor pendidikan dan kurang bertalenta juga yang menyebabkan kehidupan mereka menjadi jauh dari layak.

Suami Ibu Sumartini meninggal pada Januari 2003 karena penyakit stroke yang dideritanya. Almarhum suaminya itu mengalami stroke selama 8 tahun. Tapi selama 7 tahun selama masa sakitnya, almarhum masih memaksakan diri untuk bekerja serabutan dengan gerak yang sudah terbatas. Hingga pada 1 tahun terakhir, almarhum tidak bisa bergerak lagi sama sekali hingga akhir hayatnya.

Karena keadaan yang serba kekurangan dan orangtua yang sakit-sakitan itulah, akhirnya anak sulung yang bernama Iza (26) memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya karena ingin bekerja membantu orangtuanya agar bisa tetap menyekolahkan adik-adiknya. Dan anak sulungnya itupun akhirnya hanya sekolah hingga kelas 4 SD saja dan sekarangpun hanya bekerja serabutan malah lebih banyak menganggurnya karena ia bertugas mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengurus kakek serta adik bungsunya yang masih duduk di kelas V11 SMPN 23 OKU. Karena ibunya itu bekerja dari pukul 6 pagi hingga 5 sore. Tapi beruntung 2 adiknya sudah bekerja setamat SMA walaupun dengan penghasilan yang tak seberapa.

Keluarga Ibu Sumartini ini juga tinggal di gubuk yang sangat sederhana diatas tanah milik orang lain. Rumah mereka juga tidak terdapat fasilitas kamar mandi dan sumur. Sehingga untuk urusan MCK, mereka harus ke sungai yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Begitu juga dengan masalah penerangan, untuk mendapatkan aliran listrik di rumahnya, mereka menumpang pada tetangga terdekatnya dengan membayar iuran sebesar seratus ribu rupiah per bulannya.

Untuk urusan dapur, mereka juga masih menggunakan kayu bakar demi menghemat pengeluaran rumah tangga. Tentu saja karena sebagai buruh pemetik jagung, Ibu Sumartini harus pandai-pandai mengatur keuangan agar mereka bisa bertahan hidup. Dimana ia diupah sebesar lima ribu rupiah per karung ukuran 50kg.

Itulah sekilas kisah Ibu Sumartini yang memang sangat layak untuk kita perhatikan dan di santuni. (TA)

Link Banner Link Banner Link Banner
Facebook Comments

Check Also

Raih 8 Penghargaan Zona Integritas, Menperin Digelari Pemimpin Perubahan

Komline, Jakarta – Kementerian Perindustrian terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada stakeholders, dunia industri dan masyarakat luas …