Home / Curhat Om / Indonesia Raya Dalam Pusaran Neoliberalisme

Indonesia Raya Dalam Pusaran Neoliberalisme

Link Banner

Komline, Palembang- Saudaraku, jika ingin tahu “gagasan Indonesia” yang subtantif, bacalah teks lagu Indonesia Raya karya WR Soepratman. Lagu itu merupakan perwujudan rasa persatuan dan kehendak untuk merdeka, mandiri, modern dan martabatif.

Pesannya sangat jelas: Bangunlah Jiwanya (mental, karakter, kepribadian) baru Bangunlah Badannya (infrastruktur, struktur, fisik). Sayang, elite kita tak paham gagasannya. Gak mengerti idenya. Tak hirau pesannya. Mereka hanya tahu indonesia tapi tak mengerti raya. Ide dan gagasan yang ada dalam lagu Indonesia Raya. Realitasnya, jauh dari harapan rakyat Indonesia diera DEMOKRASI saat ini.

Arah demokrasi kita saat ini berada dalam pusaran ” Demokrasi Neoliberal.” Apakah produk terbaik dari demokrasi neoliberal…? Tak ragu aku menjawabnya, “ketimpangan sosial.” Korban terbesarnya adalah masyarakat urban. Karena kebetulan masyarakat Indonesia muslim maka para urbanis adalah mereka. Dan, mereka pula yang kini paling menderita di seputar kota-kota besar di Indonesia: miskin, digusur, diusir dan belum maksimalnya perlindungan negara.

Tentu ketimpangan sosial adalah pengkhianatan terbesar dari janji kemerdekaan: keadilan sosial. Sila kelima dalam pancasila.Pertanyaannya, “apakah ketimpangan sosial ini akan melahirkan revolusi sosial ?”. Jawabannya tegas, tidak. Mengapa? Sebab kita hanya sabar menerima takdir dan marah hanya melalui pekik takbir. Tetapi tidak bersatu untuk melakukan perubahan khususnya didalam memilih calon legislatif dan calon presiden. Padahal melalui pemilu 2019 merupakan momentum yang tepat untuk memilih dan mengganti pemimpin yang benar-benar putra-putri terbaik negeri ini.

Sesungguhnya, prasyarat revolusi sosial sudah tampak di depan mata. Revolusi kaum urban muslim biasanya dipicu oleh rasa ketidak-adilan, kesengsaraan karena kenaikan tajam harga bahan makanan dan tingginya angka pengangguran sehingga mereka jadi budak dan jongos bangsa lain di negerinya sendiri.

Kepincangan dan ketimpangan demikian luar biasa. Tetapi diberitakan sebaliknya. Sampai-sampai mata kita rabun untuk melihat rakyat hidup menderita dengan pajak yang sangat berat dan harga-harga yang melambung.

Anehnya, keluarga elite ekonomi-politik dan bangsawan serta kalangan elite agamawan hidup mewah. Mobil bermerek. Baju bertumpuk.

Sayangnya, kita belum punya Khomeini dan Guevara yang kalau bergerak, keduanya mewakafkan segenap jiwa raga memerdekakan bangsanya dari penjajahan lokal dan internasional.

Dulu, kita punya bung Karno, bung Hatta ,bung Tomo dan bung – bung yang lain dengan sengenap jiwa patriotnya membela bangsa dan negri ini . Saat ini tidakkah kita ” MALU ” dengan para bung pejuang dan pendiri negri ini.

Pertanyaannya saat ini adalah ” sampai kapan ketimpangan sosial ini dapat berakhir “. Sampai kiamatkah….?. Sebab, tak kulihat cahaya di depan. Tak kutemukan pintu di masa kini. Aku hanya bisa bertanya, “apa hebatnya neoliberalisme yang kita anut kini saat keuntungan negara hanya diperuntukkan bagi segelintir orang (para plutokrat dan oligark) tetapi resikonya ditanggung semua orang?”

Juga, “apa hebatnya teori dan praktek pembangunan berbasis utang dan obral murah SDA via BUMN serta penyerahan kedaulatan ipoleksusbudhankam pada asing dan aseng saat semua warganegara Indonesia bernapas saja kesulitan luar biasa?”.

Saudaraku, percayalah bahwa zaman keemasan nusantara yang menghasilkan manusia Pancasila hanya akan diproduksi oleh siapa yang tidak silau dengan kurikulum neoliberalisme.

Merekalah yang crank; tidak menuhankan jabatan (anti status quo); tidak memuja lawan jenis (anti libidinal); tidak menyembah harta benda (anti kapital). Merekalah agensi zaman pencerahan. Merekalah subjek dari peradaban. Tentu bukan elite yang korup apalagi para pemberi fatwa bertukar dollar.

HASBI

Ketua Dewan Forum Honorer Indonesia Pusat

BACA JUGA:

Ilusi Pertumbuhan Lupa Memeratakan Pembangunan

Dimanakah “Pemimpin Nawacita” (Menilik Infrastruktur Lubuk Raja OKU)

(SN)

Link Banner
Facebook Comments

Check Also

HMI Turut Beraksi Di Hari Buruh Mengawal Tuntutan

Komline,Jakarta– HMI cabang Jakarta barat beserta komisariat mercubuana dan satyagam kali ini ikut aksi. dalam …