Home / Berita Tokoh / Ketua DPR-RI Bambang Soesatyo : “Muslim Moderat Bumikan Pancasila Lawan Radikalisme Di Kampus”

Ketua DPR-RI Bambang Soesatyo : “Muslim Moderat Bumikan Pancasila Lawan Radikalisme Di Kampus”

Link Banner Link Banner

Komline,Jakarta- Perkumpulan Gerakan Kebangsaan Menyelenggarakan forum diskusi “Strategi Kebangsaan Mengatasi Paham Radikalisme di Universitas”. Acara berlangsung di Di Seketariat Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) hari ini 11 Juni 2018 Di Jalan Duren Tiga No 7 Pancoran Jakarta Selatan .

Forum diskusi lintas generasi ini dihadiri Ketua PGK, H. Bursah Zarnubi SE, dan sejumlah narasumber diantaranya Bambang Soesatyo SE, MBA selaku Ketua DPR-RI, Jend. Pol. Prof. H. Tito Karnavian, PS.D selaku Kapolri RI, DR. Arif Satria SP, M. Si selaku rektor Universitas IPB, Prof. DR. Ir. Nuhfil Hanani, Ms. selaku rektor Universitas Brawijaya.

Dalam riset terbaru Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPMI) cukup mengejutkan. Sejumlah fenomena keagamaan yang cenderung radikal telah merambah dunia ke dunia pendidikan. Bahkan sejumlah kampus ternama di Indonesia terindikasi menjadi pusat pengembangan paham-paham radikalisme yang mengancam eksistensi Indonesia sebagai negara majemuk, toleran dan inklusif. Kalangan akademis, mahasiswa, dosen dan pegawai menjadi target penyebaran paham radikalisme.

Kepada awak media, Ketua DPR-RI Bambang Soesatyo, SE, MBA dalam forum diskusi lintas aktivis generasi yang digelar Perkumpulan Gerakan Kebangsaan, bertema ” Strategi Kebangsaan Mengatasi Paham Radikalisme di Universitas,” menjelaskan Temuan paham radikal yang menyerang dunia pendidikan hingga dikampus-kampus itu adalah tamparan keras bagi para pecinta Indonesia terutama pada kelompok muslim moderat yang selama ini dikenal penjaga setia Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika.

Salah satu temuan kuat itu adalah anak-anak mudamillenial menjadi sasaran empuk kelompok keagamaan memberi pengaruhnya ke anak-anak muda zaman now menjadi target-audiens.

Kalangan anak muda, yang menjadi generasi penerus kedepan, bahkan eksistensi bangsa ini secara keseluruhan. Gerakan kaum radikal dalam menyebarluaskan jejaring dan pengaruhnya tidak muncul tiba-tiba, namun sudah disiapkan bahkan sampai didesain puluhan tahun silam.

Ketua DPR-RI Bambang Soesatyo juga menjelaskan, strategi yang diperlukan untuk melawan radikalisme yang terjadi di Indonesia dikampus-kampus, dengan mengutamakan nilai-nilai “muslim moderat” sangat penting.

“Menjadi muslim moderat berarti berjiwa terbuka, toleran, gaul, menghargai perbedaan, dan sekaligus Islam banget. Itu berarti energi ruhaniah Ke-Islaman yang mereka wujudkan dalam kehidupan sehari-hari selalu menyejukkan dan bersinergi membangun kebangsaan. Mereka bangga menjadi muslim, tetapi pada saat yang sama, urusan “primordialnya” sudah tuntas, menjadi muslim ya otomatis menjadi Indonesia,” jelasnya.

Dalam jiwa “muslim moderat” variabel kebangsaan itu menjadi sangat penting. Hal itu ditunjukkan dengan bukti mereka menerima menerima Pancasila secara kaffah. Maka bagi para “muslim moderat” persoalan Pancasila sudah selesai, tidak ada keraguan sedikitpun dibenak mereka tentang Pancasila sebagai dasar ideologi negara, maupun falsafah hidup bangsa.

“Paham-paham Radikalisme jelas bertentangan dengan Pancasila. Maka radikalisme harus kita lawan. Dengan cara Membumikan Pancasila di ruang publik, Pancasila harus hadir dimana-mana, Pancasila harus menjadi ruh dan sekaligus menjadi dasar/pijakan dalam setiap penyelenggaraan negara termasuk dalam penegakan hukum.

Dengan membumikan Pancasila adalah bentuk strategi kebudayaan untuk menangkal, mencegah dan melawan radikalisme termasuk di kampus. Meskipun Pancasila tak begitu akrab dan dekat dihati anak-anak muda menanamkan nilai-nilai luhur Islam dan Pancasila (Keislaman, keIndonesiaan, dan Kemodernan) secara efektif dan menyenangkan. ” jelasnya.

Langkah konkret yang diambil terkait srategi melawan radikalisme di universitas, Bambang Soesatyo, SE MBA selaku Ketua DPR-RI menyebutkan : adanya langkah aksi penguatan kapasitas dosen tentang wawasan nusantara dan komitmen kabangsaan. Selain itu dosen-dosen mata kuliah agama sangat berperan penting dalam mengisi wawasan keagamaan mahasiswa. Kualifikasi utama dosen agama yang boleh mengajar di kampus adalah berwawasan kebangsaan dan mengakui/mengamalkan Pancasila sebagai dasar negara, ideologi pandangan pedoman hidup berbagsa dan bernegara, di samping itu tentu saja menguasai disiplin ilmu agama.

Kedua, wajib mengaktifkan dosen sebagai penggerak wawasan Ke-Indonesiaan dan kebangsaan dalam proses edukasi di kampus, baik di dalam kelas, ruang laboratorium, perpustakaan bahkan forum diskusi informal di kantin.

Ketiga, birokrat kampus dan dan civitas akademika, terutama pegawai harus memiliki persepsi yang sama tentang komitmen kebangsaan. Hal itu harus dipastikan dan dipertegas oleh pihak pimpinan kampus.

Keempat, student goverment dalam semua tingkatan, baik tingkat jurusan, fakultas bahkan universitas harus dipastikan bergerak dan dikendalikan oleh mahasiswa yang berjiwa nasionalisme,” oleh karena itu sebagai ketua DPR saya menyarankan organisasi-organisasi ekstra kampus seperti HMI, PMII, dan IMM dibolehkan kembali aktif didalam kampus. Karena organisasi semacam ini mampu menangkal radikalisme di kampus,” jelasnya.

Kelima, Unit Kegiatan Kemahasiswaan yang merupakan wadah pengembangan bakat dan minat mahasiswa harus dijadikan forum pendidikan kepemimpinan dan penguatan profesi mahasiswa dslam paradigma cinta tanah air dan nasionalisme berdasarkan nilai-nilai Pancasila.

Keenam, untuk di kampus umum Forum Kajian Lembaga Dakwah (LDK) harus berada di bawah komando Muslim garis tengah/moderat. Kegiatan kampus menjadi sarana pengembangan Islam moderat, seperti masjid kampus, usroh, halaqoh dan tarbiyah. Informasi yang saya terima dari beberapa perguruan tinggi, dulu di masjid kampus dikuasai aktivis HMI, kemudian beralih ke KAMMI, dan kini dominasi anak-anak HTI.

Ketujuh, birokrat kampus bidang kemahasiswaan harus melakukan pendekatan yang luwes dengan para aktivis mahasiswa untuk mendialogkan masalah Ke Indonesiaan dan ke Islaman dengan pola yanh cair, persuastif dan tepat sasaran. Budaya dialog dan diskusi yang bersifat intelektual untuk mewujudkan kepentingan yang lebih luas harus terus ditumbuhkan dan dibudayakan.

Kedelapan, penguatan modal sosial (norma, jaringan dan kepercayaan) seluruh komponen civitas akademika dalam mencapai tujuan pendidikan tinggi : Terciptanya manusia cerdas, terdidik dengan baik, memiliki karakter moral dan karakter kinerja teruji untuk menyiapkan regenerasi kepemimpinan dalam segala tingkata. Paradigma berpikir kritis-rasional atas dasar budaya saling-percaya adalah modal sosial yang sangat berharga untuk melahirkan calon-calon pemimpin masa depan berwawasan kebangsaan.

Kesembilan, perkuliahan harus sesuai dengan karakter akademik atau program studi yang dipilih mahasiswa. Hal ini penting untuk menghindari adanya penyusupan paham-paham anti-Pancasila secara diam-diam dan sistematis.

Kesepuluh, para insan kampus wajib memperkuat mata kuliah tertentu seperti penguatan tafsir kebangsaan idelogi negara, tidak hanya dijadikan teori, namun juga praktik lapangan.

Kesebelas, dosen/pendidik tak boleh ada yang berpaham radikal: karena itu proses seleksi dosen menjadi kunci. Selain itu setiap pengajar/pendidik/dosen harus mampu merealisasikan nilai-nilai Pancasila. Jika diketahui ada dosen-dosen tertentu terbukti kuat menjadi pengikut/anggota ormas terlarang seperti isis atau HTI, maka pihak pimpinan kampus wajib memecat dosen yang bersangkutan secara tegas.

(sn)

Link Banner Link Banner Link Banner
Facebook Comments

Check Also

MENJAMURNYA KORUPSI DI LAHAT GRPK LAPOR KPK RI

Komline, Jakarta– Dengan hadirnya salah satu ORMAS di kabupaten Lahat, yang tanpa hentinya terus melakukan …