Home / Seputar Daerah / Ketum GPPB : Tragedi Sigi adalah Kegagalan Kepala BNPT

Ketum GPPB : Tragedi Sigi adalah Kegagalan Kepala BNPT

Komline, Jakarta- Ketua umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Pembaharu Bangsa (PP GPPB) menyoroti peristiwa pembunuhan yang menyebabkan empat orang tewas, pembakaran satu gereja dan tujuh rumah jemaat yang terjadi di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah pada Jum’at (27/11/2020).

Menurut keterangan aparat kejadian ini disinyalir dilakukan oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipimpin oleh Ali Ahmad alias Ali Kalora.

“Peristiwa ini sangat memukul bangsa kita, apalagi ditengah situasi Negara kita seperti hari ini. Ancaman teror ini sangat berbahaya sekali bagi Indonesia, terutama bagi integrasi nasional ya, karena dengan adanya hal ini menimbulkan rasa ketidak nyamanan masyarakat, ketidak stabilan politik, berpotensi menimbulkan perpecahan antar golongan, dan tentunya berseberangan dengan falsafah Bangsa Indonesia, seharusnya Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) lebih massif lagi dan lebih galak ya dalam menangani teroris di Indonesia, jadi jangan bergerak masifnya hanya karena sudah kecolongan seperti hari ini.” ucap Abraham.

Ketua umum GPPB menilai kejadian di Kabupaten Sigi ini adalah bagian dari kegagalan BNPT yang dipimpin oleh Komjen. Pol. Dr. Drs. Boy Rafli Amar, M.H. karena diawal kepemimpinannya Boy Rafli berjanji akan menjadikan penanganan sisa kelompok teror Santoso sebagai agenda prioritas BNPT, akan tetapi Boy Rafli dan jajaran BNPT sepertinya sangat kewalahan menangani hal ini sebab jika kita tarik ke belakang pada awal Agustus 2020 lalu sebelum Boy Rafli melakukan kunjungan ke wilayah operasi, kelompok Ali Kalora melakukan penyanderaan dua orang petani dan merampok rombongan pegawai Pemda Poso di jalan Trans Sulawesi.

Keberadaan Ali Kalora sempat dianggap tidak begitu berbahaya atau diremehkan, BNPT sempat meyakini jika kelompok ini tinggal beberapa orang saja terlebih terbunuhnya Santoso dan penangkapan beberapa dari kelompok tersebut. Dengan begitu, kapasitas Ali Kalora diragukan bisa memimpin dan mempertahankan kelompok teror MIT apalagi ditengah Operasi Tinombala.

“Akan tetapi prediksi dan anggapan tersebut salah sebab di tahun 2020 ini telah terjadi tiga kali insiden di Sulawesi Tengah yang menjadi tanggung jawab kelompok Ali Kalora, hal ini semakin menunjukkan bahwa kapasitas Komjen Pol. Boy Rafli Amar diragukan dalam memberantas terorisme” Uajarnya.

“Saya menilai Komjen. Pol. Boy Rafli Amar telah gagal menjalankan tugas Negara dalam pemberantasan teroris dengan penegakan hukum yang tegas, berdiri tegak lurus, dan tanpa kompromi dengan melakukan perburuan yang massif untuk membongkar dan menangkap jaringan teroris ini sampai ke akarnya.” Imbuhnya.

“Dengan tiga kali aksi yang dilancarkan oleh kelompok MIT dalam rentang waktu kurang dari satu tahun semakin memperlihatkan kegagalan Komjen Pol Boy Rafli Amar dalam mengemban amanah presiden RI. Seharusnya mereka (BNPT) melakukan pendekatan soft power ditengah upaya pendekatan hard power, agar masyarakat setempat juga mendukung operasi yang sedang dilakukan.” Tutup Abraham.

Facebook Comments

Check Also

Dodi-Beni Wujudkan Mimpi SDM Lokal Migas di Muba

Komline, Jakarta- Kepala Disnakertrans Muba, Mursalin SE MM menyebutkan, bukan mimpi jika di masa mendatang, …

%d bloggers like this: