Home / Berita Tokoh / Kolaborasi Kreatif”, Kunci Pertemuan Aktivis Kepemudaan Sumatera Selatan

Kolaborasi Kreatif”, Kunci Pertemuan Aktivis Kepemudaan Sumatera Selatan

Link Banner

Komline,Palembang – Bertempat di Kedai Seruput, Jalan Lunjuk Jaya Bukit Besar. Para aktivis kepemudaan Sumatera Selatan yang terdiri dari lintas lembaga menggelar silaturrahim sekaligus refleksi spirit aktivisme yang selama ini menjadi ruh kebangkitan sebuah bangsa pada Sabtu (16/6).

Dalam agenda kali ini Lembaga Pemikir Strategis CDCS (Center for Democracy and Civilization Studies) menjadi tuan rumahnya yang diwakili oleh dua peneliti yakni Rio Chandra Kesuma, S.H, M.H dan Rahmat Farizal, sementara dari Dewan pengurus Wilayah PGK (Perkumpulan Gerakan Kebangsaan) Sumsel diwakili oleh Kemas Randi Rahmad (Wakil Ketua), Samsul Bahri (Bendahara Umum), Seto Nuryasin (Ketua PD PGK kota Palembang), dan Andre Saputra (Pengurus PW PGK Sumsel), kemudian saudara Harda Belly (Pimpinan Media Komering Online), Muhammad Hidayat Arifin, SH (Praktisi Hukum), Bambang Heriyadi (Praktisi Politik), dan Anja Anggara (Praktisi Politik).


Dalam sambutannya, Rio Chandra Kesuma selaku salah satu Peneliti Lembaga Pemikir Strategis CDCS menyampaikan bahwa CDCS merupakan lembaga yang terbuka untuk semua elemen yang bersepakat dengan narasi tentang politik, demokrasi, dan peradaban.
“Dalam perjalanannya CDCS telah menjadi lembaga yang konsen pada upaya menciptakan lingkungan intelektual strategis yang responsif pada isu-isu terkini baik pada tingkat regional maupun nasional serta isu-isu yang funamental di bidang politik, demokrasi, dan perdaban yang dikemas dalam agenda Kajian Dwi Pekanan (KDP), Focus Group Discussion (FGD), serta Sekolah Pemikiran M. Natsir Institute” ujar Rio.


Kemudian Anjas Anggara atau yang lebih akrab disapa Mas Anjas juga menyampaikan pentingnya peranan pemuda yang turut serta menjadi bagian dalam menyelesaikan permasalahan daerah khususnya permasalahan di akar rumput.
“Sebenarnya masyarakat tidak terlalu peduli dengan 01 atau 02, yang mereka inginkan itu adalah bagaimana permasalahan prinsip seperti pendidikan bisa diperbaiki. Meskipun kita telah memiliki Program Sekolah Gratis, tidak serta merta masalah kemudian selesai. Ketimpangan pendidikan di kota dan desa saat ini betul-betul terjadi. Saya pernah turun ke daerah-daerah dan menemukan masalah pendidikan ini begitu crowded, nah seharusnya PGK sebagai lembaga yang dinaungi oleh anak muda ikut turun langsung. Kemudian CDCS bisa mengkajinya bersama pemerintah terkait agar bisa kita temukan solusi terbaik dari setiap permasalahan yang ada didaerah” ujar Mas Anjas.
Senada dengan hal tersebut, Kemas Randi Rahmad selaku Wakil Ketua PGK Sumsel juga mengatakan bahwa didaerah asalnya juga tidak mendapatkan akses pendidikan yang layak.
“Secara pribadi di daerah asal saya juga pendidikan jadi barang langka, bahkan sarana dan prasarananya juga tidak memadai. Dan secara lembaga kami pun di PGK setiap akhir pekan berkeliling kota Palembang membagikan nasi kotak gratis untuk orang-orang yang kurang mampu dan menemukan fenomena rakyat miskin di kota Palembang ini juga masih banyak. Sehingga pertemuan dengan Lembaga CDCS hari ini membuat kami senang sekali, kami berharap kedepannya bisa banyak berdiskusi dengan CDCS serta ikut terlibat dalam upaya memberikan kontribusi bagi perbaikan daerah Sumatera Selatan” tutur Randi.
Pertemuan yang berlangsung hangat ini membuka frame berpikir semua peserta untuk dapat memandang demokrasi dengan sebuah pemahaman baru tentang “Kolaborasi Kolektif” seperti apa yang disampaikan oleh Rahmat Farizal atau lebih akrab disapa bung Ijal selaku salah satu peneliti lembaga Pemikir Strategis CDCS.
“Pada dasarnya Indonesia ini lahir dari pengalaman bersama yang selama ratusan tahun dijajah, ditindas, dan direbut haknya oleh para penjajah. Sehingga spirit inklusifitas adalah spirit yang sejak dulu telah menjadi embrio lahirnya negara kita. Sebagai anak kandung reformasi tentu tugas kita saat ini adalah melakukan kolaborasi kreatif. Kemajuan teknologi yang ditandai dengan lahirnya Revolusi Industri 4.0 adalah salah satu faktor kolaborasi kreatif ini harus kita galakkan di Sumatera Selatan. Kita melihat permasalahan bangsa ini begitu banyak, setidaknya ada empat sektor prinsip yaitu pendidikan, ekonomi (kemiskinan), kesehatan, dan penegakan hukum. CDCS hadir sebagai lembaga pemikir strategis sekaligus bank data bagi kita semua, ada PGK yang memiliki masa untuk terjun ke masyarakat, ada media yang bisa menjadikan permasalahan bangsa ini menjadi konsumsi publik agar timbul kesadaran masyarakat, ada para praktisi yang bisa memberitahukan kepada kita realitas politik khususnya dalam kacamata pengambilan kebijakan. Sehingga jika kita benar-benar serius, lingakarn intelektual yang dibingkai kolaborasi kreatif ini akan menjadi kekuatan baru dalam rangka membangun daerah serta ikut andil dalam kontribusi menyelesaikan permasalahan yang ada” jelas bung Ijal.
Silaturrahim ini berakhir pukul 18.30 WIB yang diakhiri dengan sesi foto bersama dan kesepakatan agar silaturrahim ini berlanjut dan berharap semua lembaga yang hadir dapat terus eksis memberikan kebermanfaatan.

(Er)

Link Banner
Facebook Comments

Check Also

Wajib Pajak keluhkan kesalahan administrasi BPPD Kota Palembang

Komline, Palembang– Dalam rangka meningkatkan PAD daerah kota Palembang, Badan Pengelolaan Pajak Daerah Kota Palembang …

%d bloggers like this: