Home / Seputar Daerah / Komunitas Sahabat Sehati Bersama Seklur Kemelak Bindung Langit Menyampaikan Santunan Untuk Keluarga Sumartini

Komunitas Sahabat Sehati Bersama Seklur Kemelak Bindung Langit Menyampaikan Santunan Untuk Keluarga Sumartini

Link Banner Link Banner

Komline, Baturaja – Sabtu, 18 Agustus 2018 sekitar pukul 16.30 WIB Komunitas Sahabat Sehati yang didampingi oleh Bakar Usman SE selaku Sekretaris Lurah (Seklur) Kelurahan Kemelak Bindung Langit mengunjungi rumah Ibu Sumartini di daerah Kelurahan Kemelak Bindung Langit, Kecamatan Baturaja Timur, Kabupaten OKU, Provinsi Sumatera Selatan untuk memberikan santunan.

Santunan ini adalah kegiatan rutin bulanan Komunitas Sahabat Sehati dalam rangka berbagi terhadap sesama yang lebih membutuhkan uluran tangan kita. Saat itu Komunitas kami diterima dengan sangat baik oleh keluarga Ibu Sumartini. Tidak ada kecanggungan diantara kami saat kunjungan itu. Berbagi cerita seputar kehidupan mereka dengan sesekali diselingin senda gurau.

” Patut di teladani bagi kita utamanya kaum wanita dan ibu, walaupun kehidupan mereka serba kekurangan, tapi dibalik keluguan dan kepolosan mereka tidak ada kesan berkeluh kesah menjalani kerasnya hidup. Mereka adalah contoh keluarga yang selalu mensyukuri hidup”, ujar Yetti Asmara yani yang lebih dikenal dengan sapaan akrabnya Asmara Nian yang merupakan inisiator dari Komunitas Sahabat Sehati.

Senada dengan Asmara Nian, Seklur Kemelak Bindung langitpun memberikan apresiasinya terhadap Komunitas Sahabat Sehati.

” Saya selaku Seklur dan begitupun juga dengan Lurah Kemelak Bindung Langit sangat mendukung dengan adanya kegiatan sosial seperti ini dari siapapun, karena kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi kita sesama manusia, dengan adanya santunan yang diberikan oleh Komunitas Sahabat Sehati ini maka merupakan sebuah cara untuk peduli terhadap sesama “, ujar Seklur Kemelak Bindung Langit.

Ini sekilas info, siapa sebenarnya target santunan yang di sambangi oleh Komunitas Sahabat Sehati pada hari minggu tanggal 18 Agustus 2018.

Silahkan baca….ūüėė

Bersyukurlah kita semua yang diberikan kehidupan layak oleh Tuhan YME. Karena nyatanya tidak semua orang bisa hidup lebih baik secara lahir dan batin. Dan tidak semua orang beruntung dengan kerja kerasnya demi memenuhi kebutuhan hidup yang sangat keras ini.

Seperti halnya yang dialami oleh Ibu Sumartini (46), warga Kemelak, Bindung Langit, OKU adalah seorang janda dengan 4 orang putri, sekaligus seorang anak dari bapak tua yang bernama Bahri (85) ini kehidupannya memang serba kekurangan. Mungkin karena faktor pendidikan dan kurang bertalenta juga yang menyebabkan kehidupan mereka menjadi jauh dari layak.

Suami Ibu Sumartini meninggal pada Januari 2003 karena penyakit stroke yang dideritanya. Almarhum suaminya itu mengalami stroke selama 8 tahun. Tapi selama 7 tahun selama masa sakitnya, almarhum masih memaksakan diri untuk bekerja serabutan dengan gerak yang sudah terbatas. Hingga pada 1 tahun terakhir, almarhum tidak bisa bergerak lagi sama sekali hingga akhir hayatnya.

Karena keadaan yang serba kekurangan dan orangtua yang sakit-sakitan itulah, akhirnya anak sulung yang bernama Iza (26) memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya karena ingin bekerja membantu orangtuanya agar bisa tetap menyekolahkan adik-adiknya. Dan anak sulungnya itupun akhirnya hanya sekolah hingga kelas 4 SD saja dan sekarangpun hanya bekerja serabutan malah lebih banyak menganggurnya karena ia bertugas mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengurus kakek serta adik bungsunya yang masih duduk di kelas V11 SMPN 23 OKU. Karena ibunya itu bekerja dari pukul 6 pagi hingga 5 sore. Tapi beruntung 2 adiknya sudah bekerja setamat SMA walaupun dengan penghasilan yang tak seberapa.

Keluarga Ibu Sumartini ini juga tinggal di gubuk yang sangat sederhana diatas tanah milik orang lain. Rumah mereka juga tidak terdapat fasilitas kamar mandi dan sumur. Sehingga untuk urusan MCK, mereka harus ke sungai yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Begitu juga dengan masalah penerangan, untuk mendapatkan aliran listrik di rumahnya, mereka menumpang pada tetangga terdekatnya dengan membayar iuran sebesar seratus ribu rupiah per bulannya.

Untuk urusan dapur, mereka juga masih menggunakan kayu bakar demi menghemat pengeluaran rumah tangga. Tentu saja karena sebagai buruh pemetik jagung, Ibu Sumartini harus pandai-pandai mengatur keuangan agar mereka bisa bertahan hidup. Dimana ia diupah sebesar lima ribu rupiah per karung ukuran 50kg.

Itulah sekilas kisah Ibu Sumartini yang memang sangat layak untuk kita santuni. Semoga kedepannya kehidupan keluarga Ibu Sumartini akan lebih baik melalui anak-anaknya yang mulai bisa hidup mandiri, sehingga bisa membantu penghidupan keluarga mereka.

Komunitas Sahabat Sehati merupakan sekumpulan orang orang yang secara pribadi ingin memberikan sebagian rejekinya dengan seikhlasnya dan semampunya bahkan terdiri dari orang orang yang berniat menjalin silaturahmi dan kekeluargaan secara luas.

(Titi Akib)

Link Banner Link Banner
Facebook Comments

Check Also

Apel Siaga Seluruh Pegawai PLN UP3 Lahat

Komline – PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Lahat, dalam rangka menjelang Pemilu 2019 mendatang, …