Home / Berita Tokoh / MENGKRITISI KETIDAK-SIAP-SIAGAAN PEMERINTAH DALAM MENANGGULANGI WABAH PANDEMI CORONAVIRUS DISEASE 2019 (COVID – 19)

MENGKRITISI KETIDAK-SIAP-SIAGAAN PEMERINTAH DALAM MENANGGULANGI WABAH PANDEMI CORONAVIRUS DISEASE 2019 (COVID – 19)

Jakarta – Hari menghitung hari ditengah wabah pandemi Coronavirus Disease (COVID 19)/Virus Corona, dapat dirasakan semakin mengkhawatirkan, khususnya bagi warga yang ada di Ibukota – Jakarta atau Jabodetabek dan sekitarnya maupun warga masyarakat lainnya di berbagai wilayah Indonesia, yang boleh dikatakan memiliki beban psikis/psikologis yang cukup berat dalam menghadapi realitas merebak-nya pandemi virus corona (COVID – 19).

Hal ini tentu tidak lah heran sebab dari waktu ke waktu, dari sejak ditetapkannya 2 (dua) orang pertama yang teridentifikasi positif virus corona (Senin, 02/03/2020), sampai saat ini angka/data secara kuantitatif memperlihatkan grafik peningkatan yang cukup significant, data terakhir bersamaan dengan tulisan ini dibuat memperlihatkan bahwa kasus global yang terkonfirmasi ialah sebanyak 245.484 dan untuk di Indonesia, orang yang diperiksa sebanyak 1.898, Positif COVID – 19 sebanyak 369, Sembuh (Positif COVID – 19) sebanyak 17, Meninggal (Positif COVID – 19) sebanyak 32, Negatif COVID – 19 sebanyak 1.570, dan dalam proses pemeriksaan sebanyak 21 (data terupdate per 20/03/2020, sumber COVID19.GO.ID). Tentu ini bukanlah kabar baik dan berita yang gembira (bahagia), namun justru sebaliknya, kabar buruk dan duka bagi perjalanan peradaban bangsa.

Melalui narasi singkat ini secara objektif dengan melepaskan sentimen politis, maupun aspek sensasional lainnya sebagaimana yang telah saya baca di beberapa artikel-tulisan singkat sebelumnya, akan coba diketengahkan beberapa point kritis dan konstruktif yang dialamatkan kepada pemerintah pusat (untuk selanjutnya disebut pemerintah) dalam menanggulani pandemi virus corona.

LATAR BELAKANG
Pada awalnya, secara personal saya juga tidak terlalu ‘tertarik’ dan ‘semangat’ untuk menarasikan beberapa sumbangsih pemikiran dan pandangan kritis terkait isue wabah corona (yang saat ini tengah mewabah) melalui ruang tulisan singkat ini, hal yang memang dikarenakan diluar kelaziman menulis hal – hal yang menyangkut topik diluar disiplin ilmu yang ditekuni (bukan orang medis/kesehatan).

Namun, seiring perjalanan waktu, realitas yang ada di depan mata, memperlihatkan keadaan yang cukup miris sekaligus memprihatinkan, khususnya terhadap sikap dan langkah yang dilakukan oleh pemerintah dalam merespon, mengantisipasi, dan mendeteksi dini penyebaran virus corona dari awal hingga (terjadi) saat ini. Dan oleh karenanya, dengan beberapa batu uji secara faktual dan objektif serta dengan sandaran pada isue kemanusiaan dan peradaban, saya coba untuk menarasikan beberapa pandangan kritis konstruktif ke dalam tulisan singkat ini.

ISU KRUSIAL
Secara prinsip, point krusial pertama, ialah bahwa dari hulu (awalnya) ketika pertama kali muncul wabah virus corona di Wuhan (Cina) dan juga telah menyebar ke beberapa negara lain, seperti Italia, Prancis, Iran, Filipina, Singapura, Malaysia dan negara lain-nya, Pemerintah dalam hal ini, seakan jumawa atau/bahkan dapat dikatakan terlalu percaya diri (over condfident) serta tidak ada langkah antisipasi/deteksi dini dalam mengantisipasi kemungkinan awal virus corona tersebut mewabah di Indonesia, malah dapat dilihat dari berbagai kesempatan dan pernyataan beberapa pembantu Presiden (menteri) yang justru menihilkan kemungkinan virus corona berkembang di Indonesia.

Tentu, ini sangat lah disayangkan, andaikan dari awal pemerintah merespon virus corona yang terjadi di negara luar tersebut secara responsif dan antisipatif, mungkin realitas yang terjadi di Indonesia saat ini, tidaklah sama dengan apa yang menjadi kondisi faktual detik ini, setidak- tidaknya dapat diminimalisir sedini mungkin.

Sedari awal, andaikan langkah antisipasi telah dibuat/dipersiapkan, misalkan secara sederhana dengan membatasi secara ketat pintu masuk kedatangan dari negara luar, ataupun dari negara – negara yang secara vital telah terjangkit virus corona, setidaknya hal tersebut satu langkah, telah dapat meminimalisir angka suspected virus corona saat ini.

Dan point krusial yang kedua, ialah tidak adanya skala prioritas pemerintah terhadap keselamatan/kesehatan warga negara atau ‘rakyatnya’. Sejak awal kasus COVID – 19 dinyatakan telah positif (ada) menjangkit 2 (dua) kasus pertama Warga Negara Indoenesia (WNI), bahkan dapat dilihat alih – alih membicarakan bagaimana langkah taktis dan strategis menanggulangi virus corona agar tidak menjadi pandemi dan menjangkit warga masyarakat lainnya, malah sidang kabinet (pertama) pemerintah merespon keadaan tersebut justru lebih menitikberatkan pada aspek ekonomi dan investasi (dalam hal ini penyelamatan ekonomi dan investasi mendapat tempat/prioritas utama dari pemerintah), sungguh sebuah ironi.

NEGARA ABSEN, ABAI & LALAI
Secara lebih lanjut, dapat pula dilihat sedari awal virus corona ini muncul – berkembang, dan belum menunjukan angka penularan/penyebaran yang besar, pemerintah pun bahkan terasa abai, dapat dikatakan negara (absen) tidak hadir sama sekali. Bahkan untuk hal – hal yang sangat kecil dan sederhana, seperti ketersediaan masker pun sudah menjadi barang langka sekaligus barang mewah, dapat dilihat sangat sulit sekali mencari masker atau sekedar hand sanitizer/antiseptic bagi warga masyarakat yang ingin proaktif dalam mencegah dan agar tidak tertular dari COVID – 19 tersebut.

Pada minggu yang lalu, tepatnya (Senin, 09/03/2020), saya juga sempat berpergian ke luar kota di dalam negeri, meninggalkan Jakarta menuju Medan untuk beberapa hari dan selanjutnya pulang ke kampung halaman di Palembang dan balik ke Jakarta untuk selanjutnya melakukan perjalanan darat ke Solo, dan fakta realitas yang saya jumpai ditengah virus corona yang sudah menunjukan angka/grafik yang (akan) naik pada saat itu, justru dalam hal ini di beberapa objek vital, seperti Bandara, masih sangat sulit untuk menemukan masker ataupun melihat tersedianya hand sanitizer/antiseptic, bahkan terlihat aktivitas di beberapa objek vital tersebut meskipun terlihat cukup sepi (tidak seramai biasanya) namun seperti tidak ada langkah taktis yang dilakukan oleh pemerintah sedini mungkin dalam mengantisipasi wabah COVID 19 agar tidak berlanjut/berkembang, tidak ada protap dan protokol pemeriksaan kesehatan di beberapa objek vital tersebut (pada waktu itu).

Negara seakan abai/lalai/absen (tidak hadir) dalam upaya menanggulangi/mengantisipasi sedini mungkin wabah pandemi COVID-19. Tentu, dapatlah dilihat bahwa negara memiliki organ pemerintahan yang sistematis, dukungan anggaran yang memadai (meskipun tidak kuat), serta (seharusnya) memiliki politic will yang memberikan skala prioritas bagi keselamatan/kesehatan warga negara, yang memang sudah menjadi tugas/kewajiban konstitusional bagi negara untuk memenuhi-nya (untuk melindungi segenap warga negara dan seluruh tumpah darah Indonesia) atau dalam hal ini pemerintah wajib menjamin keselamatan warga negara, dan selaras dengan hak konstitusional warga negara (untuk memperoleh jaminan/pelayanan kesehatan), yang memang harus dipenuhi oleh negara.

KETIDAKSIAPSIAGAAN & SKALA PRIORITAS
Tentu, dalam hal ini sangat diharapkan sedini mungkin pemerintah melalukan langkah taktis dan strategis yang konkrit dalam menyikapi merebaknya wabah pandemi virus corona, sangat diharapkan organ kementerian/lembaga negara yang in charge di dalam urusan ikhwal ini segera do something, jangan malah terkesan diam/pasif, tidak ada setitik pun langkah taktis yang konkrit yang dirasa oleh warga masyarakat ketika wabah virus corona itu muncul.

Tentu sangat diharapkan, organ negara dalam hal ini Kementerian Kesehatan dan/ataupun BNPB (yang menjadi leading sector) dalam penanggulangan wabah COVID – 19, dapat secara aktif dan produktif melakukan langkah pencegahan dan penanggulangan yang konkrit.

Kementerian Kesehatan tentu dapat dikapitalisasi secara massive, begitupun dengan BNPB yang bekerjasama dengan semua element pemerintahan baik di level pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota. Sedari awal andaikan Kementerian Kesehatan dan BNPB telah mengkapitalisasi diri-nya, untuk secara pro – aktif dalam penanggulangan virus corona, mungkin tragedi kemanusiaan berupa wabah virus corona hari ini yang terjadi di Indonesia, dapat diminimalisir. Point penting yang perlu menjadi attensi bahwa sangat disayangkan keterlambatan dan ketidaksiapsiagaan pemerintah dalam mengantisipasi sedini mungkin (dari awal) penyebaran virus corona.

Sedari awal tentu sangat diharapkan, perangkat tekhnis pemerintah hadir, bekerjasama, saling bahu membahu sampai kepada level tekhnis (unit terkecil), dalam isu pencegahan/penanggulangan wabah virus corona, peran intelegent (BIN) tentu akan sangat tepat untuk mendeteksi dini kedatangan para pendatang dari negara luar yang teridentifikasi suspect COVID – 19, begitupun dengan pihak Keimigrasian yang secara ketat juga mengawasi kedatangan pengunjung dari negara luar tersebut, dengan asistentsi Kementerian Kesehatan yang tentu dapat melakukan screening awal para pihak yang dicurigai suspected COVID – 19.

Begitupun dengan peran dari element pemerintahan lain, baik yang ada di provinsi maupun kab/kota, yang senyatanya memang dari awal bersinergi dan memiliki koordinasi yang simultan dan integratif dengan pemerintah pusat. Namun apa daya, adanya langkah yang terkesan sendiri – sendiri, misskoordinasi dan misskomunikasi diantara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, juga dikarenakan pemerintah pusat yang memang senyatanya, tidak memiliki kesiapsiagaan dan boleh dikatakan ‘amatiran’ dalam menyikapi pandemi wabah COVID – 19.

Senyatanya pemerintah, harus kembali menegaskan dirinya memiliki komitmen yang penuh dengan memberikan skala prioritas utama dan pertama kepada warga negara-nya dalam isu penanggulangan wabah virus corona, dan menegasikan berbagai macam pertimbangan ekonomi (investasi), politis dan diplomatis, dst. Sebab jikalau tidak demikian, realitas hari ini dan beberapa waktu ke depan akan dapat menjadi catatan preseden buruk dalam memoar peradaban dan kemanusiaan, tentu kita tidak ingin melihat apa yang (sudah) terjadi di negara luar juga menjadi realitas di dalam negeri terkait dengan wabah pandemi virus corona.

SOLUSI, EVALUASI & SOLIDITAS NASIONAL
Akhirnya, perlu pula diketengahkan bahwa catatan kritis konstruktif melalui ruang artikel tulisan ini, bukan semata – mata dan serta – merta mencari ‘kambing hitam’ dan menyalahkan pemerintah, sebab harus disadari bahwa point kritis yang diketengahkan sangat diharapkan menjadi bahan evaluasi dan aspirasi yang didengar oleh pemerintah dalam mengambil langkah taktis dan upaya pro-aktif ke depan (forward looking).

Bagaimanapun, meski terlambat dan cukup disayangkan adanya ketidak-siap-siagaan pemerintah dalam mendeteksi dini dan mengantisipasi pandemi COVID-19, ke depan tentu semua element/pihak strategis harus tetap bersama/bersinergi secara solid dalam menghadapi pandemi wabah COVID – 19.

Dan kalau boleh menitipkan satu pesan sebagai anak bangsa dan dengan harapan agar didengar oleh Pemerintah/Presiden RI ialah bahwa bagaimanapun dan apapun langkah/upaya yang akan dilakukan ke depan dalam penanggulangan wabah virus corona, agar tetap dan harus memberikan skala prioritas utama dan pertama kepada Warga Negara, artinya bagaimana dapat menggunakan naluri kemanusiaan dan peradaban untuk dan agar memberikan jaminan konstitusional terhadap aspek kesehatan/keselamatan Warga Negara dan menghilangkan naluri non kemanusiaan (peradaban), seperti penyelamatan ekonomi dan investasi, meskipun bagian terakhir tetap menjadi bahan referensi/pertimbangan, namun setidaknya tidak menjadi skala prioritas yang utama dan pertama.

Dengan realitas dan kondisi yang cukup ‘mencekam’ saat ini, tentu sangat diperlukan solidaritas dan soliditas bersama, semangat kolektivitas bersama dalam upaya penanggulangan wabah virus corona, kritik terhadap pemerintah dalam hal ini tidaklah semata – mata mengurangi apresiasi atas berbagai langkah taktis dan strategis yang telah dilakukan dan diupayakan oleh pemerintah (saat ini), bahkan ke depan sesama anak bangsa harus siap menjadi volunter kemanusiaan guna menyelamatkan peradaban ditengah merebaknya wabah virus corona.

Sebelum menutup ruang artikel singkat ini, doa dan harapan bersama agar wabah virus corona segera teratasi, dan tentu doa yang takkala tulus kepada semua pihak yang menjadi garda terdepan dalam penanggulangan wabah virus corona (COVID – 19), semoga tuhan selalu melindungi dan memberi kesehatan serta keselamatan.

Ditengah derasnya kritik terhadap pemerintah, tekanan ekonomi yang cukup merisaukan dan isu kemanusiaan wabah virus corona yang semakin hari semakin mengkhawatirkan, namun seyogyanya solidaritas sesama anak bangsa dalam menghadapi pandemi virus corona tetap perlu diketengahkan, Bersatu Untuk Indonesia Menghadapi Coronavirus Disease (COVID 19), Kita Bisa !

Oleh :
RIO CHANDRA KESUMA, S.H., M.H., C.L.A. ***

*** Penulis ialah Peneliti Pada CDCS, Center For Democration and Civilization Studies ([email protected])

Facebook Comments

Check Also

Bikin Heboh Pasien Positif Corona di Prabumulih Sumatera Selatan Yang Berkeliaran Keliling Kota

Komline, Sumsel– Warga di Sumatera Selatan sempat dihebohkan dengan sejumlah pasien yang dinyatakan positif Covid-19 …

%d bloggers like this: