Home / Berita Tokoh / Organisasi Kepemudaan Yogyakarta Gelar Diskusi Publik Politik Santun

Organisasi Kepemudaan Yogyakarta Gelar Diskusi Publik Politik Santun

Link Banner

Komline,Yogyakarta, – Jaringan Pemuda Nusantara bersama organisasi Lentera Indonesia Institute, Liga Mahassiswa NasDem DIY, Gema Nusantara, PW GPI Yogyakarta dan Kopikrasi menggelar Diskusi Publik dengan tema “Mengedepankan Politik Santun Dalam Rangka Merawat Indonesia Bermartabat” di Republik Cafe, Kamis siang (20/12/2018). Hujan kota pelajar tidak menyurutkan minat peserta menghadiri diskusi tersebut terbukti tempat yang disediakan terisi semua.

Disksusi mengedepankan politik santun menghadirkan beberapa pembicara, diantaranya Ahmad Shidqi, Komisioner KPU DIY divisi sosialisasi, pendidikan pemilih dan partisipasi masyarakat & SDM), Bayu Mitra A. Kusuma, dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Abulaka Archaida, ketua umum Jaringan Pemuda Nusantara yang dipandu oleh moderator, Aris Ingasto Ketua Gema Nusantara.

Ketua Panitia, Asran menyampaikan dalam sambutannya bahwa Workshop ini bertujuan untuk membahas secara tuntas point-point budaya politik santun, serta bagaimana seharusnya elite politik bersama seluruh masyarakat mulai berperan aktif dalam mengkampanyekan sikap-sikap politik yang jujur, amanah, sportif, dan berpihak kepada masyarakat. Kita harus memahami betul bahwa persoalan politik tidak melulu perkara perebutan kursi jabatan, akan tetapi keikhlasan hati untuk mengabdi demi kepentingan masyarakat.

“Kami berharap melalui workshop ini akan tercipta kesadaran bersama untuk senantiasa menerapkan budaya politik santun agar tercipta atmosfir dan nuansa politik yang bersih dan bermartabat. Sehingga perbedaan pendapat antar elite politik maupun masyarakat secara umun tidak lagi menjadi bara yang dapat mengancam keutuhan bangsa dan negara. Forum ini juga diharapkan mampu memantik diskusi di forum-forum lainnya hingga mencapai solusi yang dapat dijadikan patokan bersama.” jelas Asran

Ahmad Shidqi menyampaikan bahwa kesantunan dalam politik sudah tidak menjadi prioritas oleh semua pihak. Baik oleh politisi maupun masyarakat. KPU, selaku penyelenggara pemilu punya Visi yang sama dengan apa yang menjadi goals dalam diskusi ini. Fakta di Indonesia, praktik politik banyak diwarnai oleh aksi yang kurang santun, penuh dengan ujaran kebencian, hoax, yang turut mewarnai kancah perpolitikan Indonesia terutama di musim politik tidak terkecuali tahun 2019 yang akan menjadi tahun politiknya Indonesia.

“Peraturan KPU, materi kampanye harus menjunjung tinggi pancasila dan UUD 45. Menjunjung nilai moral dan agama. Meningkatkan kesadaran hukum, memberikan informasi yang benar. Tujuannya harus meningkatkan partisipasi rakyat terhadap pemilu. Jika kampanye rusuh, maka masyarakat akan enggan. Kampanye harus menjalin komunikasi yang bagus antara peserta pemilu dengan masyarakat sebagai audien. Istilah money politik harus dibuang jauh-jauh. Materi kampanye juga harus menghargai suku, ras dan budaya yang berbeda,” tegas Ahmad Shidqi

Bayu Mitra A. Kusuma, Dosen UIN Sunan Kalijaga memotret kontestasi semakin tinggi mengingat tahun politik semakin dekat. Beda partai, beda calon, bisa bertengkar, ini kondisi sekarang yang sudah tidka rahasia lagi. Tidak hanya di lingkungan pertemanan, akan tetapi juga di lingkungan keluarga, perbedaan pilihan politik atau calon bisa memicu pertengkaran. Kenapa kita semakin mudah untuk tidak santun dan tidak bermartabat dalam politik? Kita suka membawa politik identitas, membawa SARA dalam berpolitik, ini masalahnya. Kapabilitas, kualitas dan elektabilitas sangat diperlukan untuk menghalau kondisi ini. Supaya iklim politik menjadi lebih santun dan bermartabat.

“Politik santun hilang di media sosial. Semua kata sumpah serapah banyak disebar melalui media sosial. Memang negara memberikan kebebasan kepada masyarakat Indonesia untuk berpendapat, akan tetapi kita harus ingat bahwa ada UU ITE. Indonesia adalah negara hukum, siapa pun bila melanggar hukum bisa diproses. Jangan melihat dari satu sisi, fanatisme, akan tetapi harus melihat dari sisi yang lain.
Demokrasi elektoral kita harus memiliki pilihan. Jangan golput. Sebagai warga yang baik ya harus turut berpartisipasi dalam pemilihan umum,” ucapnya

“Saya sangat mengapresiasi acara ini, karna kita harus kembali kepada budaya kita. Orang Indonesia ciri khsanya itu ramah-ramah, bukan marah-marah, orang Indonesia itu yang mengajak, bukan yang menginjak-injak,” urai Bayu.

Lanjut pembicara terakhir Abulaka Arcahaida (AA) menjelaskan dalam buku Head speech and democratics nitizensip (2016) ada dua hal yang saya garis bawahi kenapa orang melakukan ujaran kebencian: Pertama, karena adanya kecendrungan berprasangka buruk terhadap komunitas lain yang berbeda dengan mereka. Kedua, sikap inferior berlebihan orang-orang yang kalah dalam perebutan di ruang sosial yang kemudian ingin mendapatkan pengakuan publik. Mereka ingin memunculkan sesuatu yang berbeda. Orang-orang minoritas konservatif selalu menganggap bahwa kebenaran hanya ada pada mereka sehingga mempersempit ruang dialektika yang pada akhirnya terjebak di perdebatan kusir. Mereka muncul melalui isu-isu sensitif seperti agama. Tapi, orang yang punya akal sehat harus berbicara, jangan diam. Gerakan populis-konservatif, orang-orang kanan sangat dominan dalam dunia saat ini, dan terbukti ternyata gerakan tersebut lebih menang.

“Fenomena gencarnya gerakan populisme-konservatisme bahkan telah terjadi di beberapa negara besar dunia. Kemenangan Donald Trump pada Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016, keluarnya inggris dari Eropa hasil pemungutan suara besar 2016, dan yang terbaru kemenangan mengejutkan diaraih Jair Bolsorano sebagai presiden Brazil di Pipres Oktober 2018 lalu. Semua potret 3 negera besar menunggunakan sistem demokrasi moderan yang dimenangkan kelompok populisme yang diwakili konservatif kanan mengedepankan cara politik identitas demi merebut kekuasaan. Melihat kondisi perpolitik Nasional menjelang pemilihan serentak, nampaknya ada calon tertentu ingin menggunakan pola dan strategi yang sama untuk meraih kekuasaan dengan cara memproduksi kebencian, hinaan, fitnah dan menebar rasa takut pada masyarakat,” urai AA.

 

AA melanjutkan, kondisi ini harus menjadi perhatian generasi melenial, karena jika dibiarkan sangat potensi Indonesia akan mengalam sepertai kawasan Arab Spring hampir setiap hari terjadi perang saudara. Ada beberapa sikap yang harus kita ambil untuk merespon situasi sekarang ini, diantaranya generasi muda menanamkan kesadaran pada diri sendiri serta kepada orang-orang terdekat jangan terlibat diperdebatan yang mengarah pada isu suku, agama, ras dan ujaran kebencian. Selanjutnya perbanyak literasi agar ada filterisasi ketika menerima berita yang belum jelas keabsahannya dan berdiskusi dengan kelompok yang berbeda pandangan politik. Begitupun kalangan elite politik harus membekali calon dan tim mereka, jangan sampai terlibat dalam pertarungan politik yang brutal dan jauh dari kata santun.

“Dalam setiap forum dialektiak atau silaturrahmi biasa selalu saya sampaikan tidak masalah berbeda pilihan, akan tetapi yang harus diperdebatkan dan didiskusikan adalah persoalan visi dan misi calon-calon pemimpin, bahkan ini sering saya sampaikan pada orang beda pilihan politik. Memilih calon jangan disandarkan dengan politik identitas yang hanya mengedepankan fanatisme belaka. Mengambil dari bahasa Cak Nun, jangan sampai potret kebenaran VS kebenaran terjadi terus. Kebenaran cukup di dalam hati saja, yang perlu kita tampilkan cukup kasih sayang, kedamaian dan cinta,” ucap AA.

 

Rangkaian diskusi publik dilanjutkan sesi tanya jawab dari para peserta yang begitu antusias mengikuti jalannya dinamika forum. Seirama tujuan dari tujuan Organisai Jaringan Pemuda Nusantara menggelar acara ini dengan visi besar yang selama ini sering disosialisasikan oleh KPU agar masyarakat tidak menggunakan kata-kata ujaran kebencian, fitnah dan menyebarkan berita bohong. Semua itu ditempuh agar politik santun akan terealisasi dengan mudah dan menghasilkan demokrasi yang berkualitas.

(JA)

Link Banner
Facebook Comments

Check Also

Abdiyanto Fikri Terpilih Kembali Sebagai Ketua DPC PDIP Kabupaten OKI Periode 2019-2024

Komline,Palembang- Setelah lima tahun menjabat, Abdiyanto Fikri, SH MH terpilih kembali menjabat sebagai ketua DPC …

%d bloggers like this: