Home / Berita Tokoh / Tanggapi Fenomena Media Sosial, M. Natsir Institute Gelar Kajian Kritis

Tanggapi Fenomena Media Sosial, M. Natsir Institute Gelar Kajian Kritis

Link Banner

Komline,Palembang-Pembatasan penggunaan media sosial yang belakangan ini terjadi di Indonesia, khususnya pada saat demontrasi perhitungan suara Pemilu di KPU tertanggal 22 Mei 2019 yang lalu. Menjadi sebuah perhatian serius bagi generasi milenial di Indonesia. Begitulah kiranya pengantar kajian kritis dari para pemikir muda Sumatera Selatan yang tergabung pada M. Natsir Institute dengan tema “Perkembangan Media dan Fenomena Post-Truth”, pada Selasa (2/7).

Mereka menilai fenomena media dalam melakukan penggiringan opini publik bahkan sudah terjadi pada pemilu Presiden Amerika Serikat yang dimenangkan oleh Donald Trump. “Pada saat pemilu AS, hampir semua media mainstream mendukung Clinton. Namun arus media sosial digunakan oleh Trump untuk mengkampanyekan narasinya tentang ‘Making an American Great Again’ yang membuat peta politik AS berubah dan akhirnya pemilu tersebut dimemangkan oleh Trump” ujar Alip D Pratama (Direktur Eksekutif CDCS) yang didaulat sebagai pemantik kajian.


Syarifuddin yang merupakan salah satu pemikir muda M. Natsir Institute dan seorang mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang menyampaikan bahwa kita sebagai warga negara sebetulnya tidak bisa membatasi dan melarang media mainstream dan media sosial dalam membuat pemberitaan, yang seharusnya kita lakukan adalah membentengi diri.
“Kita harus memfilter diri kita masing-masing dalam menyerap informasi yang beredar di media, baik media konvensional maupun media sosial, sebab dengan cara itulah kita terhindar dari yang namanya hoax. Memfilter diri bisa dengan cara membaca setiap berita secara full jangan setengah-setengah dan juga tidak ikut-ikutan menyebarkan setiap informasi ketika kita tidak mengetahui duduk permasalahannya” ujar Syarifuddin.
Sementara itu Agus Adi Putra, S.T selaku mahasiswa berprestasi Fakultas Teknik UNSRI tahun 2017 yang juga merupakan pemikir muda M. Natsir Institute menyampaikan sudut pandang yang berbeda. “Menurutnya kita harus memahami segmentasi pasar dari media itu sendiri. Media-media konvensional biasanya lebih digandrungi golongan tua, sementara media berbasis online lebih digandrungi anak muda. Maka kita tidak boleh serta merta mudah mengatakan sesuatu merupakan Hoax sampai kita selesai mengidentifikasinya. Strategi untuk membuat rumusan melek literasi antar golongan jangan hanya menyasar kepada generasi milenial, namun golongan lain tidak diperhatikan, sehingga lebih mudah terframing oleh media” ucap Adi.
Pemikir muda lainnya yang bernama Ekram Effendi yang saat ini juga mengemban amanah sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Semendo Sumtera Selatan (HMS3), juga menyampaikan bahwa netralitas media saat ini sudah tidak ada lagi. “Banyak pemilik platform media di Sumsel memiliki afiliasi politik, bahkan ada yang terjun langsung kedalamnya. Sehingga pemberitaan yang dibuat tidak lagi netral dan terkesan menjadi humas bagi penguasa. Maka pemerintah saat ini seharusnya membuat payung hukum yang jelas mengenai pembatasan media dalam berinteraksi pada para pemilik modal dan wahana politik. Agar media sebagai pilar demokrasi bisa betul-betul terwujud”.

Ditambahkan oleh Herliansyah, selain dari pada regulasi yang jelas. Pemerintah juga harus menyediakan data-data yang valid untuk dikonsumsi masyarakat. Yang tidak memiliki tendensius dan pro terhadap kepentingan pemerintah.
Dan terakhir Muhammad Izzudin Al Hafizh, menyampaikan pandangannya tentang generasi milenial. Yang dalam pandangan beliau memiliki kecendrungan suka terhadap hal-hal yang flexibel, simple, dan nyaman. “kelemahan media konvensional saat ini adalah informasi yang diberikan hanya satu arah. Sementara milenial menginginkan terjadinya interaksi dua arah. Itulah keunggulan dari media sosial yang memiliki konten : like, komen, and sharenya. Kemudian kelemahan generasi milenial lainnya adalah adanya gelembung bias yang membatasi pikirannya, yang apabila ia telah memiliki sebuah pandangan, maka pandangan lain sebenar apapun akan sulit ia terima.” Tutur Ijud sapaan akbar beliau
Ia nemambahkan saran untuk generasi milenial dalam memandang media adalah harus melakukan komparasi ketika membaca sebuah berita, jangan hanya dari satu sumber. Dan kemudian dilakukan validasi mulai dari sumber beritanya, media yang menerbitkan, serta siapa yang dijadikan sebagai narasumber. Sebab dewasa kini hal-hal substansial seperti itu sudah mulai hilang dan tidak lagi diperhatikan.

Kajian yang berlangsung dinamis ini, berakhir pada pukul 18.30 WIB dan para pemikir muda Sumatera Selatan ini berkomitmen melakukan edukasi kpada masyarakat agar masyarakat menjadi semakin melek terhadap kemajuan teknologi dan perkembangan informasi. (df*)

Link Banner
Facebook Comments

Check Also

Puncak Kemarau Agustus-September, Presiden Minta Jajaran Astisipasi Dampak Kekeringan

Komline,Jakarta – Presiden Joko Widodo meminta seluruh jajarannya untuk mengantisipasi dan melakukan langkah-langkah mitigasi terhadap …

%d bloggers like this: