Home / Peristiwa / Tiga Kebiasaan Yang Bisa Membuat Data Nasabah Bocor Ke Publik.

Tiga Kebiasaan Yang Bisa Membuat Data Nasabah Bocor Ke Publik.

Komeringonline.com – Sebelumnya kita sempat dihebohkan oleh kasus kebocoran data nasabah yang cukup meresahkan masyarakat. Pada saat itu perbankan lah yang banyak disebut-sebut yang menyebarkan data tersebut, padahal tanpa kita sadari banyak kebiasaan dari kita yang bisa membuat data pribadi kita tersebar luas, bahkan bisa diperjualbelikan.

Berikut ini adalah tiga perilaku kita yang bisa membuat data pribadi, termasuk rekening bisa tersebar ke publik, bahkan bisa di duplikasi.

Pertama adalah menggesekkan kartu kredit atau kartu debet selain ke mesin EDC, juga ke keyboard komputer maupun mesin cash register di kasir.

Pada saat kita berbelanja di mal atau toko modern, kita membayar pakai kartu debet atau kar‎tu kredit, biasanya digesek ke mesin EDC. Ini normal-normal saja, tidak masalah, karena sudah ada peraturan dan data yang ada dikartu diprotek oleh sistem. Tapi kadang-kadang biasanya si kasir menggesek lagi kartu kita di keyboard komputer atau mesin cash register. Ini yang tidak boleh, karena mereka merekam data kita di komputer atau hardisk PC mereka.

Setelah semua data konsumen tersimpan, bisa saja disalah gunakan oleh siapapun yang mengerti tentang IT. Magnetik yang sudah terbaca di komputer itu, kemudian dipindahkan ke kartu kosong yang baru, dan disuntik dengan data nasabah, sehingga jadilah kartu kloning.

Bank Indonesia (BI) sendiri sudah melarang praktik semacam ini. Apabila kita mengetahui atau mengalami praktik penggesekan ganda seperti ini, kita bisa melaporkan ke Bank Indonesia Contact Center (BICARA) 131, dengan menyebutkan nama merchant atau pedagang dan nama bank pengelola yang dapat dilihat di stiker pada mesin EDC.

Kedua adalah, gaya hidup kita yang sekarang ini semakin menjadi trend, yaitu berbelanja online. Tanpa kita sadari, dengan berbelanja online, kita sudah sengaja memberikan data kita ke publik.

Pada waktu transaksi pembayaran, kita disuruh memasukkan nomor kartu kredit dan tiga digit nomor proteksi dibelakang kartu. Padahal kita sendiri belum tahu, bagaimana dengan keamanan atau proteksi yang ada di toko online tersebut.

Dan yang ketiga atau terakhir adalah, kebiasaan kita berbelanja online melalui ponsel atau komputer, namun menggunakan wifi publik. Karena tanpa kita sadari, dengan memakai wifi umum atau publik. Komputer atau ponsel kita sangat rentan dan gampang sekali untuk di hack. Oleh karena itu, sebisa mungkin hindarilah bertransaksi online dengan menggunakan Hotspot atau Wifi Publik.

Demikianlah sahabat komliner yang bisa saya sampaikan, dengan mengetahui kebiasaan kita ini, diharapkan kita dapat selalu berhati-hati serta sebisa mungkin untuk menghindari praktik penggesekan ganda dalam bertransaksi non tunai, serta menghindari transaksi online melalui wifi publik.

Facebook Comments

Check Also

Maksimalkan Pelayanan, Kapolri Terima Laporan Via WA

Komline, Jakarta- Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan, masih menerima pengaduan masyarakat yang dikirim langsung …

%d bloggers like this: