Home / Gaya Hidup / INTENSITAS GERAKAN PEMBEBASAN PEREMPUAN.

INTENSITAS GERAKAN PEMBEBASAN PEREMPUAN.

Oleh: Lidya cempaka (puan Gemapela)

08 Maret di tetapkan sebagai hari Perempuan Internasional sejak tahun 1907, hal ini di karenakan ada seorang perempuan dari buruh pabrik tekstil melakukan demonstrasi pada 8 Maret 1857 di New York. Demonstrasi tersebut dilakukan dengan tujuan untuk melawan penindasan dan gaji buruh yang rendah, tetapi demonstrasi tersebut dibubarkan secara paksa oleh pihak kepolisian. Pada tanggal 8 Maret 1907, Hari Perempuan Internasional diresmikan sebagai peringatan terhadap kasus yang terjadi pada tahun 1857. (Artikel WomenWatch : International Women’s Day–History)

Sejak saat itu perjuangan perempuan terus berlanjut meskipun pernah berjeda, sampai tidak terasa sudah 114 Tahun kaum perempuan melakukan gerakan pembebasan akan tetapi sampai hari ini Identitas Perempuan masih selalu direndahkan dan dipinggirkan oleh kaum patriarki, tampaknya Kaum patriarki akan menjadi musuh abadi bagi kaum perempuan. Mereka melakukan segala upaya untuk menurunkan intensitas gerakan perempuan, mereka menggiring opini tentang feminisme dengan kata feminis radikal, feminis sosialis, feminis lesbian, feminis hanya mementingkan diri sendiri, dan anti-seks dalam bahasa lainnya mereka mengatakan “Perempuan itu EGOIS dan PERASA” senjata paling ampuh yang di miliki oleh kaum patriarki, namun tak jarang senjata mereka menusuk pikiran perempuan sehingga muncul sikap pesimistis.

Kaum patriarki selalu berpikir bahwa Pembebasan perempuan akan menghasilkan perempuan yang pemberontak sehingga perempuan selalu di hadapkan dengan banyak pilihan. Kalau kata Najwa Shihab “Mengapa perempuan harus di berikan pilihan sementara mereka mampu melakukan keduanya”. Akan tetapi perempuan harus berbangga diri sikap yang dilakukan oleh kaum patriarki menandakan betapa hebatnya kaum perempuan, sehingga mereka berpikir keras untuk membunuh mental perempuan agar mereka tidak memiliki rival secara pikiran, pendidikan, politik hingga ekonomi.

Sebagai perempuan saya tidak ingin munafik yang mengatakan perempuan mahluk luar biasa dan serba bisa, bagi saya perempuan sama seperti laki-laki yang membuat perempuan istimewa karena dia perasa, sifat perasa perempuan bisa menjadi sangat bahaya jika tidak di iringi dengan logika begitupun sebaliknya. Perempuan mampu lebih cepat dalam memahami permasalahan sosial dan akan memunculkan gerakan yang luar biasa jika mereka mampu mengolah rasa (Tidak Bermental Patriarki). Namun tak jarang saya menemukan perempuan yang bermental patriarki yang mengahakimi kesalahan perempuan, menjustifikasi karya perempuan lainnya hingga saling membully. Perempuan yang bermental patriarki lebih berbahaya di banding kaum patriarki, karena sesama jenis mereka saling memahami titik kelemahan masing-masing.

Hari ini adalah alarm untuk kita dalam melakukan proses pembangunan gerakan untuk mencapai Pembebasan Perempuan, karena sejatinya para pejuang perempuan terdahulu tidak mengharapkan kaum perempuan menjadi kaum hedonis, menjadi kaum yang bermental patriarki, menjadi kaum yang hobby mempercantik diri apalagi menjadi kaum yang lincah bergoyang dan mengikuti trendi. Tapi mereka mengharapkan perempuan mampu mengaktualisasikan diri sehingga menjadi bukti bahwa perempuan adalah mahluk yang berdikari dan posisi kita di bumi ini sama seperti laki-laki.

Di Hari Perempuan Internasional yang sudah 114 Tahun ini kita sama-sama berkontemplasi untuk menjadi perempuan yang MERDEKA seutuhnya. Dan saya sangat berharap perempuan indonesia mampu merekontruksi tujuan gerakan para pejuang pembebasan perempuan tersebut.

PR yang paling fundamental untuk Perempuan masa kini adalah menciptakan dan memperkuat ikatan kelompok maupun individu, sehingga mampu menghasilkan sebuah transenden akan sejarah maupun tujuan secara umum, serta mampu memprovokasi ide dan rencana imajinatif.

“SELAMAT HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL”

Facebook Comments

Check Also

Aktivis Sumsel : Pengabdian Irjen Eko Indra Heri Patut Mendapatkan Penghargaan Setinggi-Tingginya

Jakarta-Sosok aktivis muda sekaligus putra daerah berasal dari Sumsel yang menetap di Jakarta , Harda …

%d bloggers like this: