Home / Seputar Daerah / Tanjung Enim Kota Wisata Tapi Tak Terjaga

Tanjung Enim Kota Wisata Tapi Tak Terjaga

Komline, Jakarta- Ekplorasi mineral dan sumber daya alam memiliki banyak konsekuensi. Salah satunya adalah tanggung jawab melakukan perbaikan agar tidak meninggalkan dampak buruk pasca produksi penambangan berakhir. Dari itu, perusahaan berlomba lomba untuk mencarikan solusinya. Pasalnya, dampak yang ditinggalkan pasca tambang sangatlah buruk. Baik itu dampak kemasyarakat maupun kepada alam dari sisa hasil penambangan.

Seperti yang dilakukan oleh raksasa tambang milik Negara yang berkantor pusat di Tanjung Enim, PT Bukit Asam Tbk. Mereka sudah memikirkan dari jauh jauh hari apa yang harus mereka lakukan agar nanti pasca tambang, wilayah kecil di tenggara Kota Muara Enim ini tidak menjadi kota mati seperti yang terjadi di daerah pertambangan milik PTBA lainnya yang ada di Sumatera bagian barat karena terlambat mengambil tindakan.

Perusahaan ekplorasi emas hitam ini membuat proyek besar bertajuk “Tanjung Enim Kota Wisata”. Tujuannya, pasca tambang nanti, Tanjung Enim tidak terbengkalai dan tidal bersisa seperti sapi yang habis susunya. Masyarakatnya coba diarahkan untuk bisa mendapatkan penghasilan tidak lagi bergantung pada barubara yang sudah habis, tapi mulai merubah arah ekonominya ke bidang pariwisata yang juga dianggap bisa menguntungkan masyarakat dan pemerintah daerah.

Jelas hal ini disambut baik oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Muara Enim. Karena berkaca dengan yang sudah pernah terjadi, Pemda tidak ingin daerahnya menjadi catatan buruk sebagai daerah yang mati akibat tidak lagi memiliki sumber pendapatan daerah.

Program Tanjung Enim Kota Wisata sejatinya sudah mulai digagas PTBA dan Pemda Muara Enim sejak tahun 2016 lalu. Berbagai fasilitas pendukung sebagai kota wisata akan dibangun. Mulai dari hal kecil seperti penataan taman taman, hingga bangunan yang nantinya menjadi salah satu destinasi wisata.

Berdasrkan penuturan dari Ketua Teknis Infrastruktur Kota Wisata PTBA, Budi Lesmono, kepada salah satu media Februari 2020 lalu, bahwa targetnya, pada Agustus 2020, program Tanjung Enim Kota Wisata siap di komersilkan. Konsepnya adalah pembangunan infrastruktrur yang dimulai dari jembatan, lapangan eks Mandiri ke area pasar buah Tanjung Enim.

Selain itu, akan dibangun juga fasilitas pendukung lainnya seperti, Museum sejarah penambangan batubara. Kemudian ada juga gedung kesenian, gedung pusat kuliner dan Taman Mini Sumsel dan fasilitas pendukung lainnya.

Namun hal itu sepertinya masih harus ditunda saat ini. Masyarakat Muara Enim sepertinya masih harus sedikit menunda mimpi mereka untuk menikmati fasilitas tersebut. Pasalnya, setelah sempat di lounching saat HUT PTBA ke 40 kemarin, fasilitas fasilitas tersebut saat ini masih dalam proses pengerjaan. Jauh dari kata komersilisasi seperti apa yang ditargetkan Agustus 2020.

Waterpark yang katanya akan dikelola oleh Yayasan milik PTBA, sampai saat ini pagarnya masih terkunci rapat yang nampak seperti tidak ada kehidupan. Museum yang katanya memiliki fasilitas modern, juga belum bisa dinikmati kemoderennanya. Gedung kesenian, Pusat kuliner dan Taman Mini Sumsel juga belum bisa diakses masyarakat karena masih nampak tertutup untuk umum.

Rupanya, target dan harapan yang digaungkan hanya isapan jempol belaka. Pasalnya, hingga saat ini, semua yang dijanjikan dengan target yang dibuat, jauh dari harapan. Seharusnya, perusahaan sebesar PTBA jangan mengumbar janji manis yang nyatanya tidak bisa direalisasikan, terlepas apapun kondisi yang dialami dilapangan.

Sementara itu, Manager Humas PTBA, Iko Gusman saat dikonfirmasi melalui pesan singkat whats App oleh salah satu Wartawan Muara Enim mengenai persentase progres pengerjaan fisik Tanjung Enim Kota Wisata dan kapan mulai di komersilkan, Selasa (27/04/2021) mengatakan, untuk mewujudkan Tanjung Enim menjadi kota tujuan wisata adalah suatu upaya dan program yang membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Dibutuhkan waktu yang panjang dan berkelanjutan, serta kekompakan dari seluruh elemen. Tanjung Enim Kota Wisata hanya akan terwujud apabila semua saling mendukung secara kompak dengan berkontribusi pada bidang masing-masing, baik dari pihak pemerintahan, masyarakat, kelompok masyarakat dan perusahaan yang berada di Tanjung Enim.

Facebook Comments

Check Also

Bobby Adhityo Rizaldi: Benny tidak mewakili rakyat Papua

Komline, Jakarta- Anggota Komisi I DPR RI Bobby Adhityo Rizaldi meyakini China tidak akan merespons …

%d bloggers like this: